Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Sorogan dan Bandongan Metode Khas Pesantren

Jumat 19 Apr 2019 16:56 WIB

Red: Agung Sasongko

[ilustrasi] Sekolompok santri di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur.

Foto:
Pesantren tradisional mempunyai metode tersendiri dalam mengajarkan agama Islam

Metode ini pernah diilustrasikan oleh Abu Bakar Aceh sebagaimana diukutip Ridwan Nasir dalam buku Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal: Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan. Dalam mengadakan pengajian sorogan, guru atau kiai biasanya duduk di atas sepotong sajadah atau sepotong kulit kambing atau biri-biri, dengan sebuah atau dua buah bantal dan beberapa jilid kitab di sampingnya yang diperlukan. Sementara, murid-muridnya duduk mengelilinginya. Ada yang bersimpul, ada yang bertopang dagu, bahkan ada yang bertelungkup setengah berbaring, sesuka-sukanya mendengar sambil melihat lembaran kitab yang dibacakan gurunya.

Tak kalah menariknya, di pesantren juga kerap menggunakan metode bandongan atau bandungan. Istilah bandungan berasal dari bahasa Sunda ngabandungan yang berarti memperhatikan secara saksama atau menyimak. Dengan metode ini, para santri akan belajar dengan menyimak secara kolektif. Namun, dalam bahasa Jawa, bandongan disebutkan juga berasal dari kata bandong, yang artinya pergi berbondong-bondong. Hal ini karena bandongan dilangsungkan dengan peserta dalam jumlah yang relatif besar.

Penulis buku Tradisi Pesantren Zamakhsyari Dhofier mengatakan, dalam menggunakan sistem ini, sekelompok murid yang terdiri antara 5 sampai 500 orang mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan, dan sering kali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit.

Metode kedua ini oleh beberapa kalangan disebut juga wetonan, yang berasal dari kata wektu yang berarti waktu. Hal ini karena pengajian-pengajian tersebut hanya diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah melakukan shalat fardhu di masjid atau mushala pesantren.

Dalam mempraktikkan metode ini, seorang kiai akan membacakan kitab kuning dan menerjemahkannya ke dalam bahasa ibu, seperti ke bahasa Madura, Sunda, atau Jawa. Kemudian, santri menuliskan terjemahan kata demi kata seperti yang disampaikan oleh kiai tersebut. Sistem penerjemahan disampaikan sedemikian rupa sehingga para santri mudah mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam suatu rangkaian kalimat dalam kitab kuning tersebut.

Metode bandongan adalah metode transfer keilmuan atau proses belajar mengajar yang ada di pesantren yang mengajarkan khusus pada kitab kuning. Kiai tersebut membacakan, menerjemah, dan menerangkannya. Sedangkan, santri atau murid mendengarkan, menyimak, dan mencatat apa yang disampaikan oleh kiai yang memberi pengajian tersebut.

Bandongan merupakan metode utama sistem pengajaran di lingkungan pesantren. Kebanyakan pesantren, terutama pesantren-pesantren besar, menyelenggarakan bermacam-macam kelas bandongan atau halaqah untuk mengajarkan kitab-kitab, mulai dari kitab dasar sampai kitab-kitab yang bermuatan tinggi.

Pada intiya, metode sorogan dan bandongan sama-sama memiliki ciri pemahaman yang sangat kuat dalam pengajaran ilmu agama. Namun, kedua metode tersebut dianggap tidak cukup efektif untuk mengembangkan nalar kritis santri karena sedikitnya kesempatan yang diberikan untuk mempertanyakan kebenaran materi yang dipelajarinya. Metode ini sangat minim terjadinya proses dialog lantaran sedikitnya waktu pengajian yang diberikan.

Sumber : Dialog Jumat Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA