Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

3 Hal yang Wajib Dievaluasi Tiap Pergantian Tahun

Selasa 01 Jan 2019 03:28 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Yunahar Ilyas, saat memberi tausiyah pada tabligh akbar yang menjadi rangkaian Festival Republik 2018 di Masjid Al Furqan Yogyakarta, Selasa (1/1).

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Yunahar Ilyas, saat memberi tausiyah pada tabligh akbar yang menjadi rangkaian Festival Republik 2018 di Masjid Al Furqan Yogyakarta, Selasa (1/1).

Foto: republika/wahyu suryana
Yang penting dimuhasabah yakni ketakwaan diri.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Yunahar Ilyas mengisi Tabligh Akbar yang menjadi bagian dari Festival Republik 2018 yang digelar di Masjid Al Furqan Yogyakarta. Dia menyampaikan pesan sesuai Surat Al Hasyr Ayat 18. Manusia diminta melakukan evaluasi terhadap yang sudah terjadi kemarin. Karenanya, sudah seharusnya kita memulai tahun yang baru dengan bermuhasabah atas kualitas diri selama setahun terakhir.

Artinya, evaluasi apa yang sudah dilakukan pada 2018. Tapi, evaluasi apapun itu harus ada standar yang akan jadi tolak ukur berhasil atau tidaknya seseorang. Takwa, menjadi tolak ukur utama seorang Muslim.

Ia menerangkan, takwa terdiri dari tiga elemen yaitu iman, Islam dan ihsan. Bagi seorang Muslim, sudah tentu yang menjadi bahan evaluasi pertama kadar imannya selama satu tahun terakhir.

"Apakah kita bisa mempertahankan iman pada 2018, apakah kita bisa meningkatkan iman pada 2018, dan itu ukurannya tauhid, apakah kita pernah melakukan sesuatu yang merusak tauhid kita," kata Yunahar, Selasa (1/1).

Yunahar menekankan, jika sudah mengevaluasi diri, segeralah bertaubat jika menemukan perbuatan-perbuatan yang merusak tauhid. Tapi, jika merasa tidak, bersyukurlah dan perbaiki lagi pada tahun mendatang.

Kemudian, Islam, yang minimal menilai bagaimana kadar rukun Islam yang bisa kita nilai secara satu-satu. Misalkan, sudah tertibkah shalat lima waktu, sudahkah berjamaah di masjid, dan sebagainya.

Lalu, ditelaah kembali, apakah ibadah-ibadah yang dikerjakan sudah meningkatkan produktivitas, menjauhkan dari kemunkaran, dan sudahkah mendapat nilai-nilai kebaikan dari ibadah-ibadah yang dikerjakan. Evaluasi serupa diterapkan pula kepada ihsan, dan inilah titik evaluasi terbaik karena berhubungan dengan ahklak. Pekerjaan, bermasyarakat, keluarga dan banyak lagi elemen-elemen ihsan yang harus dievaluasi.

"Itulah inti muhasabah, jadi bukan evaluasi kekayaan, pangkat, itu hal-hal yang bersifat dunia, boleh juga, tapi yang terpenting itu muhasabah ketaqwaan," ujar Yunahar.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA