Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Bagaimana Islam Memandang Perkara Hadiah?

Jumat 12 Apr 2019 22:23 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Hadiah (ilustrasi).

Hadiah (ilustrasi).

Foto: gifts4women.org
Tentang hadiah, mesti melihat konteks dan tujuan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Arif Wibowo

Baca Juga

Hadiah pada dasarnya baik dan halal. Yang tidak baik -- dan mungkin juga tidak halal -- adalah apabila hal itu diberikan kepada pejabat atau pegawai yang memiliki wewenang tertentu. Ini akan membawa dampak psikologis bagi pejabat tersebut dalam pengambilan keputusan. Apalagi bila pemberian hadiah tersebut sejak mula sudah dimaksudkan untuk kelancaran bisnis atau memenangkan tender si pemberi hadiah. Bila ini yang berlangsung, bukan tidak mungkin kepentingan bisnis sang pengusaha akan lebih mendapatkan perlindungan hukum dari sang pejabat, meski, misalnya, harus mengorbankan kepentingan rakyat banyak (yang seharusnya dilayani pejabat tersebut).

Tak ayal praktek-praktek semacam itu sangat merugikan negara dan masyarakat. Di sisi material adalah membengkaknya beaya-beaya proyek karena harus ditambah dengan biaya siluman (yang musti dikeluarkan untuk hadiah). Sedangkan dari sisi immaterial adalah hilangnya nilai-nilai kemanusiaan pada diri pejabat, selain keruntuhan kredibilitasnya di mata rakyat. Karena itu, sejak awal Nabi Muhammad SAW sudah memperingatkan agar para pegawai negara tidak mengambil hadiah yang diberikan pada saat bertugas (menjabat).

Ini beliau maksudkan agar tidak terbuka pintu bagi kolusi, yang pada tahapan selanjutnya mengakibatkan penyalahgunaan wewenang untuk mencari keuntungan pribadi dan mengorbankan kepentingan rakyat banyak. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hamid As-Sa'idi, suatu kali Ibnu At-Tabiyyah menghadap Rasulullah SAW setelah menunaikan tugas sebagai petugas pengumpul zakat dari orang-orang Bani Sulaim. ''Ini kuserahkan kepada Engkau, sedangkan ini adalah hadiah yang diberikan orang kepadaku,'' lapor Ibnu At-Tabiyyah kepada Rasulullah.

Mendengar itu, beliau langsung menukas, ''Jika yang kamu katakan itu benar, apakah tidak lebih baik jika kamu duduk-duduk saja bersama ayah atau ibumu sampai hadiah itu datang padamu.'' Lalu seketika itu juga, beliau berdiri dan mengarahkan pembicaraannya kepada orang banyak, ''Amma ba'du, aku telah mempekerjakan beberapa orang di antara kalian untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku. Kemudian seorang dari mereka itu datang kepadaku, lalu berkata, 'Ini kuserahkan kepada Anda, sedangkan ini adalah hadiah yang diberikan kepadaku.'

Jika apa yang dikatakannya benar, apakah tidak lebih baik kalau ia duduk saja di rumah ayah atau ibunya sampai hadiah itu datang kepadanya? Demi Allah, siapapun di antara kalian yang mengambil sesuatu dari zakat itu tanpa hak, pada hari kiamat kelak ia akan menghadap Allah sambil membawa apa yang diambilnya itu.'' Begitulah cara Rasulullah mewujudkan aparat yang BMW (Bersih, Manusiawi dan Wibawa) dalam artian yang sebenarnya. Dengan mekanisme seperti itu, maka clean government tak kan hanya terwujud dalam teori, tapi juga menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA