Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Jejak Islam di Makedonia Utara

Selasa 25 Jun 2019 12:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Bendera Makedonia.

Bendera Makedonia.

Foto: blogspot.com
Islam agama terbesar kedua di Makedonia Utara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Republik Makedonia Utara termasuk salah satu negara dengan populasi pemeluk agama Islam terbesar di Benua Eropa. Menurut data yang dirilis Pew Research Center pada 2016, jumlah Muslim di Makedonia saat ini diperkirakan mencapai 808 ribu jiwa lebih atau sekira 39,3 persen dari total penduduk negeri itu. Dengan de mikian, Islam adalah agama terbesar kedua di Makedonia setelah Kristen Ortodoks.

Kaum Muslimin yang hidup di Makedonia Utara umumnya berasal dari latar belakang suku dan budaya yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah Albania, Turki, Romani, Bosnia, dan Makedonia asli. Komunitas Albania merupakan etnis Muslim paling dominan di Makedonia yang jumlahnya mencapai 500 ribu jiwa lebih. Sebagian besar dari mereka tinggal di Wilayah Polog dan kawasan barat negara itu.

Sementara, etnis Makedonia asli yang memeluk agama Islam diperkirakan berki sar antara 40 ribu–100 ribu jiwa. "Mereka umumnya adalah keturunan masyarakat Kristen Ortodoks yang masuk Islam sejak berabad-abad yang lampau ketika Kesul tanan Turki Ottoman menguasai Balkan," ung kap peneliti asal Turki, Ya ar Kalafat, da lam laporannya berjudul "Popular Beliefs Among the Macedonian Turks: Turkmens, Torbeshes, Turkbashis, Chenkeris, and Yörüks".

Berdasarkan catatan sejarah, persentase populasi Muslim Makedonia sempat menyusut dari 36,76 persen pada 1904 menjadi 24,05 persen pada 1961. Tapi, sejak 1971, angka tersebut kembali meningkat, sehingga jumlah Muslim di negara itu kini mencapai 39,3 persen. Tidak hanya itu, masih menurut Pew Research Center, Islam bahkan diproyeksikan bakal menjadi agama mayoritas di Makedonia pada 2050.

"Dalam 35 tahun mendatang, persentase umat Muslim di Makedonia diperkirakan akan mencapai 56,2 persen, menggeser posisi umat Kristen yang menjadi kelompok mayoritas saat ini," ungkap Pew Research Center dalam laporannya The Future of World Religions: Population Growth Projec tions, 2010-2050.

Seperti halnya kaum Muslim di negaranegara Eropa lainnya, tantangan utama yang dihadapi umat Islam di Makedonia dalam beberapa waktu ke depan tampaknya bakal terkonsentrasi pada isu anti-Islam atau Islamofobia.

"Apalagi, kelompok anti-Islam sekarang ini tak henti-hentinya berupaya mencemarkan nama baik Islam dan melawan kehadiran kaum Muslimin melalui tekanan politik, budaya, dan pemberitaan media," tulis Ferid Muhic dalam laporannya, "Muslims of Macedonia: Identity Challenges and an Uncertain Future".

Dia mengingatkan, beberapa kelompok ekstremis sayap kanan dan kalangan politisi berhaluan neofasis telah meluncurkan kampanye di sejumlah negara Eropa Barat untuk mendorong ketakutan masyarakat terhadap Islam. Di antara mereka terdapat Marie Le Pen (pemimpin sayap kanan di Prancis), Joerg Haider (Austria), dan Geert Wilders (Belanda). "Tokohtokoh itu selalu meng gam barkan Islam dan Muslim sebagai an caman terhadap perdamaian dan stabilitas Eropa," imbuh Muhic.

Menurut dia, kampanye anti-Islam yang dilancarkan oleh kaum ekstremis tersebut secara konsisten bakal menempatkan masa depan umat Islam Makedonia di bawah te kanan. Kekhawatiran Muhic tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, sejumlah tokoh politik terkemuka di dalam tubuh pemerintahan Makedonia kini juga mulai melancarkan kampanye yang menjelek-jelekkan Islam.

Tidak hanya itu, masalah diskiriminasi juga menjadi realitas yang harus dihadapi umat Islam Makedonia hari ini. Hal itu tercermin pada tingkat partisipasi mereka di bidang pendidikan, ekonomi, dan politik. Semua studi penelitian dan data statistik membuktikan bahwa masyarakat Muslim Makedonia berada di level paling bawah di bidang pendidikan. Umat Islam di negeri itu juga tercatat sebagai kelompok yang termiskin dari segi sosial. ¦

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA