Senin , 18 September 2017, 10:43 WIB
Seriak Kekerasan September

Pesantren Takeran Saksi Bisu Pemberontakan PKI 18 September 1948

Red: Muhammad Subarkah
Pesantren Takeran, Magetan, Jawa Timur.
Pesantren Takeran, Magetan, Jawa Timur.

Ratusan orang dijagal dan dimasukkan ke dalam sumur tua yang ada di tengah perkebunan tebu sewaktu pemberontakan PKI Madiun pada September 1948. Anehnya malah terlihat dilupakan atau dianggap tak penting!

Perkebunan tebu tampak mengering mengiringi sengatan suhu yang dibuat matahari di sekitar wilayah Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di dashboard mobil tercatat suhu di luar ruangan mencapai 40 derajat Celcius. Udara terasa mengepul seolah tanpa oksigen. Angin perdesaan yang lazimnya sejuk, terasa seperti sengatan bara.

Di sebuah warung tikungan jalan yang letaknya di samping pabrik gula Rejosari, Kecamatan Kawedanan, Magetan, beberapa orang lelaki tampak duduk meriung sebuah warung. Di seberang jalan tampak sebuah tugu yang dipucuknya terpacak patung burung garuda terbang. Saat itu beberapa orang datang berkunjung ke monumen dalam rangka peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Sebuah karangan bunga diletakkan di kaki tugu tersebut.

''Ya, persis di bawah tugu itulah dulu lubang pembantaian PKI 1948. Setelah jenazahnya diambil, sumur ditimbun kembali. Beberapa tahun setelah tragedi itu di situ kemudian didirikan monumen,'' kata Jumiran (57 tahun), warga Desa Rejosari, akhir pekan lalu (30/9).

Menurut Jumiran, para pengunjung monumen tak hanya datang pada bulan September atau Oktober saja. Pada hari biasa banyak juga keluarga korban pembantaian yang datang untuk berdoa dan tabur bunga. ''Mereka datang dari jauh, dari luar Magetan. Kadang ada juga yang menyelenggarakan tahlilan di situ,'' tukas Pariyem (75 tahun), warga Desa Rejosari lainnya.

Ketika ditanya siapa sebenarnya yang dulu "ditanam" di dalam lobang sumur itu, Pariyem mengaku tak tahu persis karena dia saat itu masih anak-anak. Hanya, orang tuanya memberitahu bahwa mereka yang dibunuh bukan berasal dari kampungnya. ''Mereka orang jauh. Kata orang tua, ada bupati, wedana, jaksa, kiai, haji, pegawai, dan lainnya. Untuk persisnya, lihat saja nama-nama yang ada di tembok monumen,'' ujarnya.

Dan ketika dicek di tembok monumen, di sana terpacak 26 nama. Mereka di antaranya bupati Magetan, para anggota kepolisian, patih Magetan, wedana, kepala pengadilan Magetan, kepala penerangan Magetan, lima orang kiai, dan para warga biasa lainnya. Selain itu masih ada lima sumur lainnya yang juga dipakai sebagai ajang pembantaian. Bila dijumlahkan, seluruh korban pembantaian tercatat ada 114 orang. Mereka diantar ke lokasi eksekusi dengan cara diangkut dengan gerbong lori milik yang biasa untuk mengangkut tebu. (Lihat gambar gerbong lori yang dipakai untuk mengangkut para korban yang hendak di eksekusi di Perkebunan Tebu Takeran, pada waktu meletusnya Pemberontakan PKI 1948 di Madiun)

Beberapa nama ulama yang ada di monumen itu di antaranya tertulis KH Imam Shofwan. Dia pengasuh Pesantren Thoriqussu'ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali. Bahkan, ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan azan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kiai Zubeir dan Kiai Bawani, juga menjadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.

Selain itu, beberapa nama yang menjadi korban adalah keluarga Pesantren Sabilil Mutaqin (PSM) Takeran. Mereka adalah guru Hadi Addaba' dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran. Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari mantan mendiang ketua DPR M Kharis Suhud. Selain perwira militer, pejabat daerah, wartawan, politisi pun ikut menjadi korbannya.