Kamis , 05 January 2017, 11:14 WIB

Masjid Agung Paris Jadi Simbol Islam di Prancis

Rep: Marniati/ Red: Winda Destiana Putri
 Warga muslim melaksanakan shalat Jumat di sebuah masjid di kota Paris, Jumat (20/11).   (AP/Francois Mori)
Warga muslim melaksanakan shalat Jumat di sebuah masjid di kota Paris, Jumat (20/11). (AP/Francois Mori)

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Masjid Agung merupakan Masjid tertua di Paris. Masjid ini menjadi pusat dari komunitas Muslim Perancis dan berfungsi sebagai jembatan antara negara dan warga Muslim. Imam Masjid, Dalil Boubakeur mengatakan Masjid Agung Paris memainkan peran penting sebagai simbol Islam di Perancis.

Dalil Boubakeur telah menjadi imam Masjid Agung ini sejak tahun 1992. Pria kelahiran Aljazair ini pindah ke Perancis saat terjadi perang di negara kelahirannya.

Masjid Agung Paris dibuka tahun 1926. Awalnya masjid didirikan sebagai penghormatan kepada puluhan ribu tentara Muslim yang tewas karena berjuang untuk Perancis dalam Perang Dunia I.

Memasuki pemilihan presiden yang dijadwalkan bulan Mei 2017 mendatang, Masjid kembali memainkan perannya di kehidupan masyarakat Perancis yang lebih modern. Menurut Boubakeur, dalam komunitas Muslim Perancis yang lebih luas, Masjid Agung Paris berfungsi sebagai organisasi payung untuk sebuah federasi dari beberapa ratus Masjid di seluruh negeri.

"Peran kami adalah untuk mempertahankan kehadiran Islam di Prancis. Kami berada di sana untuk semua umat Islam. Namun banyak dari masyarakat kita adalah Aljazair. Prancis menjajah Aljazair selama lebih dari seratus tahun dan ada sekitar tiga juta orang keturunan Aljazair yang tinggal di negara ini," ujar Boubakeur seperti dilansir Middleeasteye.net, Rabu (4/1).

Setiap hari, ratusan Muslim berkumpul dari seluruh kota untuk berdoa. Diperkirakan ribuan jamaah selalu memadati Masjid ini. Bukan hanya umat Islam yang merasa nyaman berada di Masjid, warga non Muslim pun juga menemukan kenyamanan saat berada di dalam Masjid.

Boubakeur menerangkan, serangan oleh kelompok ektrismis yang terjadi di Perancis maupun negara Eropa lainnya beberapa waktu terakhir menyebabkan Masjid harus bekerja lebih ekstra dalam menghadapi masyarakat yang memiliki ketakutan maupun kebencian terhadap Muslim dan Islam. Berdasarkan data dari Delegasi Inter-menteri dalam memerangi rasisme, anti-Semitisme dan homophobia (DILCRA), kekerasan terhadap Muslim naik tiga kali lipat. Pada tahun 2014, terjadi 133 kasus. Namun Pada tahun 2015, 425 kasus agresi dilaporkan telah terjadi.