Kamis , 12 Oktober 2017, 18:15 WIB

Pentingnya Muhasabah

Red: Agung Sasongko
Mahmud Muhyidin
Muhasabah Akhir Tahun Republika 2016 Ribuan jamaah mengikuti Muhasabah Akhir Tahun Republika 2016 di Masjid Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (31/12)
Muhasabah Akhir Tahun Republika 2016 Ribuan jamaah mengikuti Muhasabah Akhir Tahun Republika 2016 di Masjid Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (31/12)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap insan tentu ingin pulang ke tempat yang nyaman nan indah saat hari akhir. Tak ada yang ingin kembali ke tempat yang penuh dengan kemuraman dan penyiksaan.

Hujjatul Islam Imam Ghazali memberikan salah satu nasihatnya yang menghujam. Dalam ihya ulumuddin, sang imam membeberkan salah satu cara untuk kembali ke Jannah saat di Kampung Akhirat kelak.

"Siapa saja yang memeriksa dirinya sebelum ia diperiksa, niscaya ringanlah pemeriksaannya pada hari Kiamat, mampu menjawab setiap pertanyaan dan baguslah tempat kembalinya," ungkap Imam Ghazali. 

Keharusan memeriksa diri, melihat lebih dalam dan mau jujur dengan kondisi diri adalah bekal utama untuk pulang ke surga.Sebaliknya, Imam Ghazali mewanti-wanti, sesiapa yang enggan dan jarang memeriksa diri, mungkin akan berakhir dalam kesusahan. "Dan siapa saja yang tidak memeriksa dirinya, maka kekallah kerugiannya dan panjanglah berdirinya pada lapangan kiamat," tulis Imam Ghazali.

Muhasabah, mungkin itu istilah memeriksa diri. Imam Ghazali memberikan tempat yang spesial untuk bab muhasabah. Esensi pendekatan diri dan introspeksi dibahas dalam beberapa bagian.

Seseorang yang memiliki penglihatan kalbu yang jernih akan sadar jika Allah SWT senantiasa mengawasi perilaku mereka. Saat hisab nanti setiap aksi seberat atom akan dipersoalkan. Dan seseorang yang beriman sadar, tanpa muhasabah, orang-orang tidak akan selamat dari bahaya ini.

Allah SWT berfirman, "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah kerugian seseorang barang sedikitpun. Dan jika amal itu seberat biki sawipun pasti Kami mendatangkan pahalanya. dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan." (QS al-Anbiya [21]:47.

Disarikan dari Dialog Jumat Republika

 

Berita Terkait