Jumat , 14 Juli 2017, 15:01 WIB

Ikhlas dan Dakwah

Red: Agung Sasongko
Dok. Republika
Dakwah
Dakwah

 

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- OLEH: Ustaz Arifin Ilham

 

Saat kita diundang untuk memberikan tausiyah lalu kita penuhi dan kemudian menjalani syiar dakwah, maka tentu hal yang biasa dan begitulah seharusnya. Tapi, tidak ada undangan dan bahkan kita berupaya mendatangi objek dakwah lalu kita menjalani syiar dakwah, maka tentu hal ini luar biasa dan begitulah amal indah yang semestinya.

Kita berdakwah bukan karena diundang tapi kita tetap berdakwah mesti tidak diundang. Lisan kita tetap berujar nasihat penuh hikmah, meski tidak di atas podium. Kita tetap bersemangat menyampaikan ilmu-ilmu Allah dan Rasul-Nya, meski setelah itu tidak ada panitia yang salam tempel memberi fee transport. Kita tetap berdakwah sama penuh ghirah-nya, baik di perkantoran dan perkotaan ataupun di pelosok-pelosok kampung. Baik dengan jumlah jamaah yang membeludak atau hanya beberapa jamaah saja di gang-gang kecil.

Insya Allah kita bukan berkategori pendakwah air PDAM; keran air terbuka dan air akan keluar kalau sudah dibayar. Justru dakwah kita akan menjadi air hujan, yang siap mengguyur dan membasahi ruhiyah penduduk bumi, kapan pun dan di mana pun serta dalam kondisi bagaimanapun. Atau, dakwah kita akan menjadi air di tempayan besar; sesiapa saja yang haus dan butuh disilahkan mengambilnya.

Dalam hal dakwah kita belum diterima maka janganlah menyudahi amal mulia ini. Jangan lupa batu pecah bukan pada pukulan keseratus tapi karena terus dipukul. Teruslah jaga dengan istiqamah dan ikhlas. Saatnya kita memuhasabah harakah dakwah yang sudah kita jalani ini. Terutama dalam hal keikhlasan. Kita barangkali yang kurang dalam ikhlas sehingga dakwah kita pun sulit diterima di masyarakat, termasuk orang-orang dekat kita.

Ingat, ikhlas itu sebab paling besar diterimanya suatu penyampaian. Sindir al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ila 'Ilmi As- Sunan, "Kenapa perkataan ulama salaf di masa silam lebih terasa manfaat daripada perkataan kita?" Jawabnya, "Karena mereka ketika berucap hanya untuk meraih kejayaan Islam, supaya diri mereka mendapat keselamatan dan mereka hanya cari ridha Ar- Rahman. Sedangkan, kalau kita berucap lebih dominan untuk mencari popularitas, hanya cari kepuasan dunia dan cuma berbicara menyesuaikan selera manusia yang mendengar."

Ikhlas dalam dakwah akan membuat amalan itu lebih langgeng. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal." (Dar-ut Ta'arudh Al 'Aql wan Naql, 2: 188).

Coba lihat Imam Nawawi, meskipun umurnya singkat, namun ilmunya terus kekal dan langgeng. Karya beliau yang begitu masyhur, seperti Hadits Arba'in An-Nawawiyah, Riyadhus Sholihin dan Syarh Shahih Muslim. Bahkan, kita dapati beliau punya karya dalam berbagai bidang ilmu. Itu semua beliau lakukan karena hanya ingin meraih ridha Allah, bukan ingin disebut orang paling cerdas, paling berilmu dan saleh. Bukan pula ingin meraih gelar mentereng dengan gemerlap dunia semata. Wallahu A'lam.