Kamis , 21 July 2016, 19:43 WIB

Kurikulum Akil Baligh Diharapkan Bisa Perbaiki Akhlak Generasi Muda

Rep: Adysha CR/ Red: Dwi Murdaningsih
Republika/Adysa Citra
Gerakan Indonesia Beradab merumuskan kurikulum baligh untuk membantu memperbaiki akhlak generasi muda.
Gerakan Indonesia Beradab merumuskan kurikulum baligh untuk membantu memperbaiki akhlak generasi muda.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Gerakan Indonesia Beradab (GIB) yang didukung lebih dari 200 organisasi masyarakat telah menyelenggarakan kongres. Kongres ini merumuskan langkah konkret dalam memperbaiki adab masyarakat, khususnya generasi muda. Salah satu langkah yang akan diambil dari segi pendidikan ialah dengan merumuskan kurikulum akil baligh.

Penggagas Program Nasional Empowering Indonesia Mohamad Soleh memberi dukungan kepada rencana aksi GIB terkait penyusunan kurikulum akil baligh ini. Soleh mengatakan kurikulum akil balig perlu ditujukan pada empat segmen, yaitu orang tua, guru, peserta didik, dan masyarakat.

"Kurikulum untuk mereka mendidik para generasi muda agar siap dalam menjadi generasi yang matang dan beradab," kata Soleh kepada Republika.co.id, Kamis (21/6).

Soleh menilai kurikulum akil baligh dibutuhkan untuk menjaga adab generasi muda. Sebab, saat ini anak-anak yang baru memasuki usia akil baligh cenderung tidak memiliki ilmu yang cukup terkait tahap kedewasaannya. Di samping itu, belum ada materi pembelajaran di sekolah yang secara khusus mempersiapkan anak-anak memasuki tahap kedewasaan dan menjadi sosok dewasa yang matang dan bertanggung jawab.

Anak yang baru memasuki akil baligh tanpa dibekali ilmu yang cukup rentan mendapatkan pengaruh negatid dari pornografi dan konten-konten negatif lain yang saat ini sangat mudah diakses melalui berbagai platform. Paparan konten negatif ini bukan tidak mungkin dapat menjerumuskan anak ke dalam perilaku negatif karena otak atau pola pikir anak telah dirusak oleh konten-konten negatif tersebut.

Oleh karena itu, Soleh dan rekan-rekan anggota GIB lain akan menyusun kurikulum terkait persiapan akil balig yang ditujukan kepada guru, orang tua, peserta didik dan juga masyarakat. Kurikulum yang ditekankan pada orang tua memiliki penekanan pada penyiapan baligh bagi anak dan parenting untuk ayah. Sedangkan penyusunan kurikulum untuk guru akan berfokus pasa pembuatan modul pelatihan terkait persiapan baligh untuk anak.

Penyusunan kurikulum bagi peserta disik akan difokuskan kepada pembuatan ususlan kurikulum penyiapan akil baligh atau karakter di sekolah maupun pada ko kulikuler. Sedangkan untuk masyarakat, GIB akan menyusun rencana sosialisasi mengenai pentingnya penyiapan akil balig bagi anak-anak dengan memanfaatkan multipatform.


 

baca juga: Belajar Rasa Syukur Lewat Simulasi yang Asyik

Berita Terkait