Ahad 12 Aug 2018 17:37 WIB

Kunci Sukses Masjid Jogokariyan, Jadikan Subuh Seramai Jumat

Segenap pengurus berusaha mengembalikan fungsi masjid tak sekadar tempat shalat.

Rep: wahyu/ Red: Andi Nur Aminah
Humas Takmir Masjid Jogokariyan, Ustaz Gita Welly Ariadi.
Foto: Republika/Wahyu Suryana
Humas Takmir Masjid Jogokariyan, Ustaz Gita Welly Ariadi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Masjid Jogokariyan kembali menuai prestasi. Kali ini, Masjid Jogokariyan meraih penghargaan dari Gerakan Indonesia Beradab (GIB) mewakili institusi sosial dengan pengaruh kepemimpinan dan kaderisasi sosial.

GIB Award sendiri digelar untuk kedua kalinya dengan mengusung tema besar Kepemimpinan Beradab. Masjid Jogokariyan, menjadi satu dari enam penerima penghargaan dari GIB Award tahun ini.

Ada almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX mewakili tokoh kepemimpinan dengan pengaruh sosial-budaya, dan Prof Dr BJ Habibie mewakili tokoh kepemimpinan dengan pengaruh ilmu pengetahuan, teknologi dan politik. Selain itu, ada KH Dr Sholahuddin Wahid (Gus Solah) mewakili tokoh kepemimpinan dengan pengaruh sosial-keagamaan, dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Prof Dr Euis Sunarti.

ACT wakili organisasi nonprofit penghimpun dan penyalur dana sosial bagi keberlangsungan keberadaban manusia. Serta, Euis wakili tokoh yang secara akademik, institusional dan moral konsisten perjuangkan ketahanan keluarga sebagai inti peradaban.

photo
Masjid Jogokariyan di Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta

Humas Takmir Masjid Jogokariyan, Ustaz Gita Welly Ariadi mengatakan, para pengelola sebenarnya tidak mengharapkan mendapatkan penghargaan. Sebab, semua hanya menjalankan tugasnya masing-masing.

Namun, segenap pengurus Masjid Jogokariyan mengucapkan terima kasih, atas apresiasi yang telah diberikan kepada mereka. Ia menilai, salah satu kunci sukses Masjid Jogokariyan tidak lain dalam menarik jamaah.

Pelayanan maksimal tentu menjadi salah satu ketertarikan jamaah beribadah maupun menitipkan amanah-amanah kepada Masjid Jogokariyan. Tapi, ia merasa, itu semua merupakan proses pembelajaran yang terus dilakukan pengurus.

Untuk itu, ia bersyukur jika dalam proses pembelajaran tersebut, ternyat sudah ada manfaat-manfaat yang bia diambil jamaah-jamaah. Termasuk, takmir-takmir masjid lain yang kerap berkunjung ke Masjid Jogokariyan.

"Konsep pertama, tingkat kemakmuran masjid itu dihitung dari jumlah jamaah, bagaimana caranya menjadikan masjid itu ramai jamaahnya, tolak ukur, sebisa mungkin Shalat Subuh itu menyamai Shalat Jumat," kata Welly kepada Republika.co.id, Ahad (12/8).

photo
Masjid Jogokariyan di Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Kedua, lanjut Welly, segenap pengurus berusaha mengembalikan fungsi masjid tidak sekadar tempat shalat lima waktu. Tapi, sebagai pusat seluruh kegiatan umat Islam yang ada di sekitar Masjid Jogokariyan.

Bahkan, Masjid Jogokariyan difungsikan pula sebagai solusi masyarakat yang ada di sekitar, untuk memecahkan masalah-masalah yang ada. Karena, pada dasarnya, peradaban masjid dan peradaban pasar akan selalu bersaing.

Untuk itu, Masjid Jogokariyan muncul di tengah-tengah dominasi peradaban pasar yang membelenggu seperti materialisme. Masjid Jogokariyan bertekad, mengembalikan peradaban masjid yang pernah dibangun Rasulullah SAW.

"Kita ingin kembalikan lagi peradaban masjid sebagai solusi permasalahan-permasalahan di kehidupan umat, jadi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta itu menjadikan masjid solusi permasalahan seluruh dunia," ujar Welly. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement