REPUBLIKA.CO.ID, Embusan angin sedikit meredakan panasnya siang di Pesantren Tahfizh Difabel, Jakarta, pada Senin (14/9/2026). Di tengah teriknya hari, para santri tampak beristirahat setelah dari pagi berada di dalam kelas untuk menerima materi pembelajaran dari guru yang mengajar.
Usai melaksanakan sholat Ashar berjama’ah, para santri melanjutkan kegiatan dengan mempelajari Alqur’an dengan metode isyarat. Di tempat itu, ayat ayat Alqur’an tidak dilafazkan dengan suara. Ia hadir melalui gerakan tangan, tatapan mata, dan ingatan yang disimpan dalam benak para santri tuli.
Di salah satu sudut pesantren, seorang santri terlihat fokus membaca Alqur’an Isyarat. Tangannya bergerak mengikuti tanda tanda huruf dan harakat yang dipelajarinya. Sesekali, ia melihat kembali halaman Alqur’an untuk memastikan isyarat yang digunakan. Seorang guru berada di dekatnya untuk mendampingi dan membetulkan gerakan tangannya ketika ada yang kurang tepat.
Bagi sebagian orang, menghafal beberapa ayat Alqur’an mungkin terdengar sederhana. Meski demikian, bagi para santri tuli di Pesantren Tahfizh Difabel K.H. Lutfi Fathullah BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta, proses tersebut membutuhkan perjuangan yang berbeda.
Mereka mengandalkan penglihatan sebagai pintu utama untuk menerima informasi. Setiap huruf hijaiyah memiliki kode isyarat. Begitu pula dengan harakat. Huruf, harakat, gerakan tangan, hingga urutan ayat harus mereka lihat, pahami, kemudian direkam dalam ingatan.
Kepala Pesantren Tahfizh Difabel K.H. Lutfi Fathullah BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta, Ayub Syahrul, mengatakan, sebagian besar santri datang tanpa memiliki kemampuan membaca Alqur’an Isyarat.“Sebagian besar mereka dari nol sih masuk ke sini. Jadi kita memang dari nol sekali, dari dasar mengenalkan huruf demi huruf hijaiyah, kode isyaratnya seperti apa,” ujar Ayub.