Selasa 18 Aug 2026 14:06 WIB

PWNU DKI: Pemilihan Ketum PBNU secara Langsung Perlu Dipertimbangkan

PWNU DKI menilai pemilihan langsung berpotensi membawa kultur kontestasi elektoral.

Sejumlah santri menunggu kedatangan Presiden Perbowo Subianto saat penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syachona Mohammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). Munas dan Konbes tersebut diantaranya memutuskan penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU pada 1-5 Agustus 2026 dengan lokasi yang masih menunggu keputusan resmi PBNU.
Foto: ANTARA FOTO/Moch Asim
Sejumlah santri menunggu kedatangan Presiden Perbowo Subianto saat penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syachona Mohammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). Munas dan Konbes tersebut diantaranya memutuskan penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU pada 1-5 Agustus 2026 dengan lokasi yang masih menunggu keputusan resmi PBNU.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta berpendapat gagasan pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara langsung perlu dipertimbangkan karena mekanisme pemilihan kepemimpinan di NU tetap berpijak pada karakter, tradisi, dan nilai-nilai yang tumbuh dalam jam’iyyah (organisasi).

Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Taufik Damas berpandangan bahwa Ketua Umum PBNU tidak semestinya dipilih melalui kontestasi suara secara langsung.

Baca Juga

"Ketua Umum PBNU semestinya lahir dari syura (musyawarah) dan hikmah para ulama, bukan dari kompetisi suara. Mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjaga agar kepemimpinan NU ditentukan dengan pertimbangan ilmu, akhlak, keteladanan, dan kemaslahatan," kata Taufik dalam keterangannya, Ahad (16/8/2026).

Menurut dia, NU bukan partai politik yang menjadikan kompetisi elektoral sebagai mekanisme utama dalam menentukan kepemimpinan. NU merupakan jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah (organisasi sosial keagamaan) yang lahir dari rahim pesantren, tradisi keilmuan, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Oleh karena itu, kepemimpinan dalam NU tidak cukup diukur berdasarkan jumlah suara atau popularitas seseorang.

"Ada dimensi keilmuan, moralitas, akhlak, keteladanan, dan kemampuan menjaga kemaslahatan jam’iyyah yang perlu menjadi pertimbangan utama," ujar tokoh muda NU alumni Al-Azhar, Mesir, ini.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi