REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Seorang sumber dari jajaran pimpinan Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengungkapkan bahwa kepemimpinan Hamas, melalui komunikasi dan koordinasi intensif dengan para mediator, berhasil menghapus setiap rumusan yang dapat ditafsirkan sebagai bentuk penyerahan diri pihak perlawanan dalam peta jalan yang diajukan Nikolay Mladenov untuk memasuki tahap kedua dari rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Jalur Gaza.
Kepada Aljazeera, dikutip Jumat (3/7/2026) sumber tersebut menjelaskan bahwa Ketua Delegasi Hamas, Zaher Jabareen, meninggalkan ibu kota Mesir, Kairo, pada Kamis setelah menyerahkan tanggapan resmi faksi-faksi Palestina terhadap revisi terbaru yang diajukan Mladenov.
Sumber tersebut menegaskan bahwa selama berada di Kairo, delegasi Hamas tidak menggelar putaran perundingan apa pun, baik dengan para mediator maupun dengan perwakilan Dewan Perdamaian.
Menurut sumber itu, delegasi yang telah tiba di Kairo sejak Selasa lalu memang tidak diberi mandat untuk bernegosiasi.
Tugas mereka semata-mata menyerahkan jawaban final yang telah disepakati Hamas setelah melalui konsultasi dengan berbagai faksi Palestina dan pembahasan di seluruh jenjang kepemimpinan internal.
Sumber itu juga mengungkapkan adanya pertemuan yang sebelumnya tidak dipublikasikan, yang berlangsung pada awal pekan ini di ibu kota Turki, Ankara.
Pertemuan tersebut mempertemukan Kepala Badan Intelijen Turki İbrahim Kalın dan Kepala Badan Intelijen Mesir Hassan Rashad dengan dua anggota Dewan Kepresidenan Hamas, Khalil al-Hayya dan Khaled Meshaal.
Menurut sumber tersebut, pertemuan itu membahas agenda sidang Dewan Perdamaian Dunia yang berlangsung selama dua hari di Siprus.
Senjata disimpan, bukan diserahkan
Sumber tersebut menjelaskan bahwa melalui koordinasi dengan para mediator, Hamas berhasil memastikan dihapusnya seluruh rumusan dalam peta jalan Mladenov yang mengandung makna penyerahan diri pihak perlawanan.
Lihat postingan ini di Instagram