REPUBLIKA.CO.ID,TEL AVIV — Pemerintah Zionis Israel telah menyampaikan keprihatinannya kepada Amerika Serikat (AS) perihal proses perlucutan senjata Hamas. Israel takut kelompok perlawanan Palestina itu dapat kembali membangun kekuatan militernya dan kembali menebar ancaman baginya.
Juru Bicara Kantor Perdana Menteri Israel, Doron Spielman, mengatakan, negaranya telah mengantongi informasi intelijen yang mengindikasikan bahwa Hamas telah mempersenjatai kelompoknya kembali serta melakukan perekrutan anggota. Spielman mengekaim, hal tersebut sudah dilakukan Hamas sejak kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza diberlakukan pada Oktober 2025 lalu.
Menurut Spielman, dengan apa yang saat ini diyakini sedang dikerjakan para anggota Hamas, serangan terhadap Israel seperti pada Oktober 2023 dapat terulang lagi. Dia mengingatkan bahwa berdasarkan rencana perdamaian Gaza melalui Dewan Perdamaian (BoP) bentukan Trump, Gaza harus menjadi zona bebas “teror” dan tidak menimbulkan ancaman bagi tetangganya.
"Visi itu sangat kontras dengan realitas saat ini dan niat yang dinyatakan Hamas. Langkah pertama yang sangat diperlukan menuju pengaturan abadi adalah demiliterisasi Hamas yang asli, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diubah,” kata Spielman, Senin (3/8/026), dikutip laman Al Arabiya.
"Apa pun yang kurang dari demiliterisasi penuh akan meninggalkan Hamas dengan kemampuan untuk mengancam Israel lagi,” tambah Spielman.
Pada Jumat (31/8/2026) pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan, perlucutan senjata Hamas akan menjadi tonggak utama dalam mengakhiri perang di Gaza. Trump mengeklaim bahwa Israel senang dengan perkembangan perlucutan senjata Hamas tersebut.
Namun dalam keterangannya, Spielman menepis pernyataan Trump tersebut. “Israel telah menyampaikan komentar dan keprihatinannya tentang kerangka kerja yang diusulkan kepada rekan-rekan Amerika kami. Versi yang telah dipublikasikan tidak mencerminkan posisi Israel,” kata Spielman.
View this post on Instagram