REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Dalam sebuah pernyataan yang dianggap mencerminkan bentuk ekstremisme paling buruk, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mengunggah cuitan kontroversial di platform X yang telah ditonton hampir 19 juta kali.
Dalam unggahannya, Ben Gvir menulis bahwa untuk setiap air mata yang ditumpahkan seorang ibu Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis, dan seluruh Lebanon harus terbakar.
Dia menambahkan, "Dengan segala hormat kepada Amerika Serikat, Israel harus menjelaskan kepada seluruh dunia bahwa darah anak-anaknya dan keamanan warganya bukanlah sesuatu yang boleh dipermainkan."
Menurutnya, "Kewajiban tertinggi adalah melindungi warga Israel dan para prajuritnya, dan komitmen ini harus didahulukan di atas pertimbangan lainnya."
Menteri Israel itu juga mengungkapkan dirinya telah menyampaikan kepada Perdana Menteri, bahkan dalam pertemuan tertutup, bahwa untuk setiap air mata seorang ibu Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis.
Dia menyerukan diakhirinya apa yang disebutnya sebagai permainan pingpong dan menegaskan bahwa di Timur Tengah kemenangan tidak dapat dicapai melalui respons yang terukur dan kebijakan penahanan, melainkan dengan bertindak gila dan memusnahkan demi mengalahkan terorisme.
על כל דמעה של אמא ישראלית, אלף אמהות לבנוניות צריכות לבכות. לבנון כולה צריכה לבעור!
עם כל הכבוד לאמריקאים, ישראל חייבת להבהיר לעולם כולו שדם בנינו וביטחון אזרחנו איננו הפקר. לבנון כולה צריכה לבעור. חובתנו העליונה היא להגן על אזרחי ישראל ועל חיילי צה״ל, והמחויבות הזו קודמת לכל…
— איתמר בן גביר (@itamarbengvir) June 19, 2026
Dikutip dari Aljazeera, Ahad (22/6/2026), cuitan tersebut memicu gelombang kemarahan dan reaksi luas. Presenter dan jurnalis Piers Morgan mempertanyakan bagaimana masih ada pihak yang mendukung pemerintah Israel ketika kabinetnya berisi menteri-menteri yangd dia sebut sebagai monster yang mengalami gangguan psikologis seperti Ben Gvir, yang menurutnya menyerukan genosida di Lebanon. Morgan menyebut hal itu sebagai sesuatu yang menjijikkan.
Komentar tersebut kemudian mendapat tanggapan dari mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett.