Jumat 19 Jun 2026 08:30 WIB

Menjaga Kemabruran Ibadah Haji

Kembali ke Tanah Air, jamaah hendaknya senantiasa menjaga kemabruran haji.

Jamaah haji dari berbagai negara melaksanakan Tawaf Wada mengelilingi Kabah, Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Selasa (9/6/2026). Pelaksanaan tawaf perpisahan tersebut menjadi penutup seluruh rangkaian ibadah haji sebelum para jamaah meninggalkan Makkah menuju ke negara asal.
Foto: ANTARA FOTO/Citro Atmoko
Jamaah haji dari berbagai negara melaksanakan Tawaf Wada mengelilingi Kabah, Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Selasa (9/6/2026). Pelaksanaan tawaf perpisahan tersebut menjadi penutup seluruh rangkaian ibadah haji sebelum para jamaah meninggalkan Makkah menuju ke negara asal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jamaah di Tanah Suci telah menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Mereka sedang bersiap kembali Tanah Air dengan menyandang haji yang mabrur dengan pahala surga.

Rasulullah SAW bersabda, "Dan haji mabrur, tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga" (HR Bukhari dan Muslim).

Baca Juga

Mabrur merupakan predikat tertinggi dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah-ibadah yang lainnya. Tidak mudah mencapai predikat mabrur.

Apabila predikat mabrur telah berhasil digapai sekalipun, tidak otomatis akan melekat sepanjang hayat dalam diri sang haji dan hajjah.

Karena itu, sepulang dari Tanah Suci, jamaah hendaknya senantiasa berupaya menjaga kemabruran ibadah haji. Paling tidak, ada tiga aspek yang mesti diperhatikan.

Pertama, aspek kepribadian. Setiap anggota jamaah haji hendaknya terus berupaya untuk melestarikan amalan-amalan yang telah dilaksanakan selama di Tanah Suci.

Misalnya, shalat tepat waktu secara berjamaah, melaksanakan ibadah-ibadah sunah, berhias dengan sifat-sifat yang terpuji, dan cepat melakukan tobat apabila telanjur melakukan kesalahan.

Kedua, aspek ubudiyah. Setiap anggota jamaah haji hendaknya terus berupaya meningkatkan kualitas ibadah shalat, puasa sunah, dan tilawah Alquran. Begitu pula dengan kepedulian terhadap orang yang lemah secara ekonomi, yakni melalui zakat, infak, dan sedekah, dan lain sebagainya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

sumber : Hikmah Republika oleh Imam Nur Suharno
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement