REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –Kementerian Agama (Kemenag) merilis program Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai upaya menjawab berbagai persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, mulai dari kekeringan batin hingga maraknya kekerasan dan perundungan.
Menteri Agama (Menang) RI, Nasaruddin Umar mengatakan, KBC hadir sebagai paradigma baru pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan emosional dan spiritual peserta didik.
"Kita tidak ingin melahirkan anak didik yang kering batinnya, hanya tajam pikirannya. Yang kita harapkan adalah pikirannya tajam tapi hatinya juga subur,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Ia pun mendorong para guru, penyuluh, dan aparatur sipil negara (ASN) Kemenag menjadi agen utama dalam menanamkan nilai-nilai cinta, empati, dan kepedulian sosial, baik di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.
Kurikulum Berbasis Cinta juga ingin melahirkan anak-anak Indonesia yang produktif dan berkah. Sebab, kata Nasaruddin, tidak semua produktif itu berkah dan tidak mungkin ada berkah tanpa produktif.
Nasaruddin menjelaskan, sasaran utama dari program ini adalah terwujudnya ekosistem pendidikan dan kehidupan beragama yang harmonis, inklusif, dan berkeadaban, di mana peserta didik dan masyarakat tumbuh dengan karakter saling menghargai, toleran, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
“Para peserta diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran, pembinaan umat, dan pelayanan publik secara konkret dan berkelanjutan,” kata Nasaruddin.
“Sehingga mereka akan bertoleransi satu sama lain, mereka akan mencintai sesamanya bahkan sesama makhluknya, lingkungan hidupnya,” jelas Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini.




