REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Surat kabar "Wall Street Journal" mengutip pernyataan seorang pejabat militer AS tingkat tinggi yang mengatakan perusahaan-perusahaan pertahanan besar di Amerika Serikat akan membutuhkan waktu antara satu hingga dua tahun untuk meningkatkan laju dan volume produksi amunisi canggih.
Hal ini di tengah meningkatnya kekhawatiran di Kongres mengenai kemampuan untuk mengganti persediaan yang habis dengan cepat di kawasan Timur Tengah.
Selama sidang dengar pendapat di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat, Komandan Komando AS di Kawasan Samudra Hindia dan Pasifik, Laksamana Samuel Paparo, menjelaskan perluasan produksi akan memakan waktu satu hingga dua tahun, dan menambahkan. "Itu tidak akan cukup cepat."
Dia mencatat adanya batasan pada persediaan saat ini, sambil menegaskan bahwa persediaan tersebut digunakan dengan bijak, termasuk rudal "Tomahawk" dan "Patriot".
Kendala dalam industri pertahanan
Hal ini terjadi di saat industri pertahanan AS menghadapi kendala dalam rantai pasokan, ditambah dengan kebutuhan untuk membangun fasilitas baru dan merekrut tenaga kerja terampil.
Paparo juga menyoroti perlunya bekerja sama dengan kontraktor non-konvensional untuk mengembangkan sistem baru, termasuk senjata hipersonik, rudal jelajah berbiaya rendah, dan pesawat tak berawak.
Dalam konteks sama, jaringan "CNN" mengutip sumber-sumber yang mengetahui penilaian internal Departemen Pertahanan AS bahwa terjadi pengurasan besar-besaran pada persediaan rudal utama selama perang dengan Iran.
Hal ini yang menciptakan risiko jangka pendek berupa kemungkinan kekurangan amunisi jika terjadi konflik baru dalam beberapa tahun mendatang.




