Rabu 29 Jul 2026 14:29 WIB

RMI PBNU Harap Muktamar ke-35 NU Hasilkan Rekomendasi Peta Jalan Transformasi Pesantren

Pendirian pesantren diminta diatur lebih ketat melalui regulasi.

Rep: Muhyiddin,/ Red: A.Syalaby Ichsan
Ilustrasi Pondok Pesantren
Foto: Antara/Fauzan
Ilustrasi Pondok Pesantren

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rabithah Ma'ahad Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) berharap Muktamar Ke-35 NU yang akan digelar pada 27-31 Agustus mendatang menghasilkan arah kebijakan yang memperkuat transformasi pesantren. RMI juga mendorong agar peta jalan pengembangan pesantren menjadi bagian dari rekomendasi strategis muktamar, seiring masih berulangnya kasus kekerasan dan munculnya narasi yang dinilai mendiskreditkan lembaga pendidikan Islam tersebut.

Ketua RMI PBNU, KH Hodri Arief mengatakan, pembahasan agenda strategis muktamar berada dalam koordinasi komisi program dan rekomendasi. Namun, RMI secara khusus menginginkan rumusan road map NU untuk pesantren dapat diakomodasi dalam keputusan muktamar.

Baca Juga

"RMI secara spesifik berharap rumusan road map NU, khususnya pesantren, bisa diakomodasi. Program prioritas kita adalah Transformasi Pesantren, Digdaya Pesantren, dan Pencegahan Kekerasan," ujar Kiai Hodri saat dihubungi Republika, Rabu (29/7/2026).

Menurut dia, isu pesantren menjadi salah satu perhatian penting yang perlu dibahas dalam Muktamar. Selain terus berulangnya kasus kekerasan di lingkungan pesantren, RMI juga menyoroti munculnya framing yang dinilai merugikan citra pesantren.

"Isu kekerasan yang terus berulang, di samping adanya framing yang mendiskreditkan pesantren. Misalnya, ada beberapa masalah atau kasus yang terjadi satu atau dua tahun yang lalu sekarang diungkap lagi. Ada dapur pesantren terbakar, dinarasikan pesantren dibakar massa,”kata dia.

Sebelumnya, Kiai Hodri juga memaparkan sedikitnya tujuh persoalan krusial yang perlu menjadi perhatian dalam pembahasan Muktamar Ke-35 NU. Hal itu disampaikannya dalam focus group discussion (FGD) Pra-Muktamar NU bertema "Kekerasan di Lembaga Pendidikan Berasrama" di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa(28/7/2026).

Ia menjelaskan, persoalan pertama adalah melemahnya spiritualitas dalam pendidikan pesantren. Menurutnya, relasi antara kiai dan santri mulai bergeser sehingga tidak lagi sepenuhnya mencerminkan hubungan guru dan murid sebagaimana tradisi pesantren.

photo
Para santri membersihkan sampah di lingkungan pesantren (ilustrasi) - (dokpri)

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi