
Oleh: Anas Nasikhin Syaba, Sekretaris Badan Wakaf Indonesia
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada satu akar kata dalam bahasa Arab yang melahirkan dua konsep besar dalam Islam: wa qa-fa.
Maknanya sederhana namun dalam, yakni berhenti, diam, atau menahan. Dari akar kata ini lahir dua amalan yang tampak pasif di permukaan, tetapi justru sangat aktif dalam nilai spiritualnya: wukuf dan wakaf.
Keduanya mengajarkan satu hal yang sering sulit dipahami manusia modern: tidak semua ibadah harus ditunjukkan dengan gerak yang ramai. Ada ibadah yang justru mencapai puncaknya ketika seseorang berhenti.
Dalam rangkaian ibadah haji, banyak ritual menuntut tenaga dan gerak fisik. Thawaf mengitari Ka'bah.
Sai berjalan bolak-balik antara Shafa dan Marwah. Melempar jumrah membutuhkan pergerakan dan perjuangan di tengah jutaan manusia.
Namun puncak haji justru bukan pada gerakan itu semua. Puncaknya adalah wukuf di Padang Arafah. Secara lahiriah, wukuf tampak sederhana. Jamaah hanya berdiam diri di Arafah.
Tidak ada gerakan ritual yang rumit. Tidak ada putaran thawaf. Tidak ada lintasan sai. Hanya hadir, berhenti, dan menetap. Tetapi justru di titik itulah inti ibadah bekerja.
Tubuh boleh diam, tetapi hati bergerak mendekat kepada Allah. Lisan dipenuhi dzikir. Tangan menengadah dalam doa.
Jiwa bercengkerama dengan Tuhan di tengah hamparan manusia yang tak terhitung jumlahnya. Sebuah keadaan yang bisa disebut sebagai “hening dalam keramaian”.




