Kamis 16 Apr 2026 20:58 WIB

Rahasia Sukses Tarbiyah Ala Rasulullah

Dalam konteks pendidikan, tarbiyah berfungsi secara kesinambungan.

Tarbiyah atau pendidikan Islam (ilustrasi)
Foto: Antara/Arief Priyono
Tarbiyah atau pendidikan Islam (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tarbiyah Islamiyah diperlukan untuk mengubah kebodohan, keterbelakangan, penipuan, dan keburukan lainnya. Secara bahasa, tarbiyah berasal dari kata rabbaba-rabbaya-yurabbiya, yang artinya 'memperbaiki sesuatu dan meluruskannya.'

Kata Ar-Rabbu yang ditujukan pada Allah SWT berarti pengajar, pendidik. Simak firman-Nya, "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.'' (QS Al-Baqarah [2]: 31).

Baca Juga

Istilah itu bisa pula berarti Pencipta dan Pemelihara sebagaimana Allah SWT berfirman, ''Segala puji bagi Allah, Pencipta dan Pemelihara semesta alam.'' (QS Al-Fatihah [1]: 2).

Dalam proses pendidikan dan pengajaran, tarbiyah memiliki pengertian menyampaikan sesuatu menuju kesempurnaan dan dilakukan secara berkesinambungan sepanjang kehidupannya. Tarbiyah Rasulullah SAW kepada para sahabatnya merupakan potret paling ideal.

Ini dibuktikan dengan lahirnya generasi unggul yang sulit dicari bandingannya, seperti Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat-sahabat besar lainnya.

Rahasia sukses tarbiyah Rasulullah SAW terletak pada nilai istiqamah, disiplin dalam menjaga amanah, dan universal dalam fungsional. ''Maka, istiqamahlah (kamu) sebagaimana aku perintahkan." (QS Asy-Syura [42]: 15).

Sahabat Abu Umrah Sufyan bin Abdillah berkata, ''Aku bertanya, ya Rasulullah katakanlah padaku ucapan dalam Islam yang aku tak akan bertanya lagi pada seseorang selain engkau?'' Rasulullah SAW menjawab, ''Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.'' (HR Muslim). Disiplin dalam amanah, terlihat bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang bisa dipercaya (amanah) dalam kondisi apa pun. Hal ini pula, diakui oleh kawan maupun lawan beliau.

Dalam perjalanan hidupnya, sejak masih kanak-kanak, dewasa hingga diangkat menjadi Rasul, beliau terkenal sebagai orang jujur. Maka, karena kejujurannya dalam perkataan dan perbuatan, beliau diberi gelar al-amin, orang yang dapat dipercaya.

sumber : Hikmah Republika oleh Azwar Rivai Lubis
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement