REPUBLIKA.CO.ID,SEMARANG — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Prof Dr Rozihan, mendorong masyarakat agar tak mempersoalkan perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 Hijriah. Menurutnya, perbedaan adalah hal biasa sekaligus indah.
"Perbedaan itu biasa dan perbedaan itu indah. Jadi mereka yang Idul Fitri di hari Jumat maupun Sabtu, keduanya sama benarnya," ujar Rozihan seusai menjadi imam dan khatib dalam pelaksanaan shalat Id di halaman Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah, Kota Semarang, Jateng, Jumat (20/3/2026).
Dia menjelaskan, perbedaan penetapan Idul Fitri terjadi karena adanya perbedaan metode pemantauan hilal. Dalam hal ini, Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal."Jadi kalau ada salah satu negara sudah melihat hilal, ya mereka menjadi berlebaran semua," kata Rozihan.
Kendati masih ada perbedaan dalam penetapan Idul Fitri di Indonesia, Rozihan tak mempersoalkan hal tersebut. "Karena Allah itu mengajarkan kepada kita, 10 itu sama dengan berapa ditambah berapa. Variabel ini kan banyak: orang jawab 5 ditambah 5 ya benar, 7 ditambah 3 ya benar, 6 ditambah 4 ya benar,"kata dia.
View this post on Instagram




