REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Otoritas Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah telah mengerahkan seluruh sumber daya dan kemampuan mereka untuk menghadapi lonjakan besar jamaah umrah. Terutama, pada saat 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Otoritas Umum untuk Pengelolaan Urusan Dua Masjid Suci telah mengaktifkan rencana operasional komprehensif untuk 10 hari terakhir Ramadhan. Mereka memfokuskan pada empat pilar.
Yaitu, layanan operasional, pemeliharaan, pengelolaan kerumunan, dan pengayaan pengalaman ibadah. Untuk mengelola lonjakan pengunjung yang diperkirakan akan terjadi, otoritas tersebut menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) dan layar berkode warna untuk memantau kepadatan jamaah secara real-time.
Langkah itu diharapkan bisa mengarahkan jamaah ke area yang lebih sedikit kepadatannya. Upaya pemeliharaan juga ditingkatkan guna memastikan efisiensi maksimal sistem pendingin udara, pencahayaan, dan sistem suara. Sementara itu, pengelolaan kerumunan diperkuat dengan peta interaktif 3D dan pelacakan barcode.
Bagi mereka yang melaksanakan itikaf, otoritas tersebut telah meluncurkan serangkaian layanan logistik dan medis khusus, bersama dengan panduan sholat digital serta salinan Alquran dalam huruf Braille. Langkah-langkah terpadu ini bertujuan untuk memberikan pengalaman spiritual yang lancar dan berkualitas tinggi bagi para pengunjung Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama malam-malam paling suci dalam setahun.




