REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebutuhan pangan penyintas bencana selama Ramadhan tidak hanya menjadi isu kemanusiaan, tetapi juga peluang menggerakkan ekonomi lokal di wilayah terdampak. Skema bantuan yang melibatkan pelaku usaha setempat mulai digunakan agar bantuan sosial memberi dampak lebih luas.
Pendekatan tersebut diterapkan dalam penyaluran 200 paket buka puasa bagi penyintas banjir di Kota Lintang, Kabupaten Aceh Tamiang, Ahad (8/3/2026). Program yang dijalankan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Wakaf Salman ini menggandeng warung makan lokal untuk menyiapkan menu berbuka bagi warga terdampak.
Bantuan difokuskan kepada warga yang masih tinggal di hunian sementara di wilayah Kampung Pipa, kawasan pedalaman Seumadam.
Hingga saat ini, lebih dari 90 persen penyintas masih bertahan di tenda pengungsian, sementara sebagian warga lain menempati rumah yang kondisinya belum sepenuhnya pulih akibat banjir sebelumnya.
Relawan menyiapkan paket makanan yang kemudian didistribusikan langsung ke tenda pengungsian dan rumah warga penyintas agar dapat dikonsumsi saat waktu berbuka. Melalui pola ini, kebutuhan konsumsi warga terpenuhi sekaligus membuka permintaan bagi warung makan kecil di sekitar lokasi terdampak.
“Kolaborasi antara Wakaf Salman dan BMH menjadi bukti bagaimana kepedulian sosial dapat menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat yang sedang berjuang membangun kembali kehidupannya,” kata Direktur Prodaya BMH Pusat Syamsuddin.
Skema bantuan yang melibatkan pelaku usaha lokal dinilai dapat memperkuat dampak sosial program kemanusiaan, terutama di wilayah yang masih dalam proses pemulihan pascabencana.




