Kamis 05 Mar 2026 18:55 WIB

Inilah Maksud 'Seribu Bulan' yang Dibanding dengan Lailatul Qadar

Seribu bulan itu berkaitan dengan kisah seorang nabi dari Bani Israil.

Jamaah berdoa saat itikaf di Masjid Al Falah Apartemen Bassura City, Jakarta. Ilustrasi Lailatul Qadar
Foto: Republika/Thoudy Badai
Jamaah berdoa saat itikaf di Masjid Al Falah Apartemen Bassura City, Jakarta. Ilustrasi Lailatul Qadar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seperti dinukil dari buku Durratun Nasihin, pada zaman Bani Israil dahulu ada seorang nabi Allah bernama Syam’un al-Ghozi. Ia juga kerap disebut sebagai Nabi Samson.

Gelar di belakang namanya itu, al-Ghozi, menandakan keistimewaannya sebagai ahli perang atau pejuang yang perkasa di medan jihad.

Baca Juga

Ia sanggup berperang melawan pasukan musuh Allah selama seribu bulan. Bahkan, dirinya hanya menggunakan tulang rahang unta—riwayat lain menyebut: tulang rahang keledai—sebagai senjata. Dengan sekali pukul, ia bisa menewaskan lawannya. Dari sela-sela gigi senjatanya itu, keluar pula air tawar yang bisa diminumnya kapanpun sang nabi haus. Dari titik yang sama pun, tumbuh daging segar yang bisa dimakannya untuk menghilangkan lapar.

Keperkasaan Nabi Syam’un ternyata membuat iri hati raja Israil. Kemudian, sang penguasa membuat sayembara: siapa saja yang bisa menangkap dan membunuh Nabi Syam’un, akan diberi hadiah berupa harta dalam jumlah besar

Para penasihat raja juga membuat plot licik dengan menawarkan harta benda dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi Syam’un. Tanpa sepengetahuan suaminya, wanita itu setuju untuk ikut dalam permufakatan jahat ini. Pada suatu malam, mereka menyusun rencana.

“Kami akan memberikan kepadamu seutas tali yang amat kuat. Ikatlah tangan dan kaki suamimu ketika ia tertidur. Kalau sudah begitu, biar kami saja yang bertindak untuk membunuhnya!” kata seorang prajurit suruhan raja kepada si istri Nabi Syam’un.

Mula-mula, istri Syam’un gagal mewujudkan rencana itu karena ketiduran. Betapa tidak! Sang nabi gemar mengerjakan shalat malam sehingga wanita licik ini tak kuasa menahan kantuk hingga subuh menjelang.

Karena selalu tidak berhasil, beberapa hari kemudian perempuan ini melapor kepada orang-orang suruhan raja Israil. Bagaimanapun, mereka memakluminya dan menyarankan agar mengikat Nabi Syam’un kala tidur siang saja.

Esok siang, rencana itu dijalankan dan berhasil. Kedua kaki dan tangan Nabi Syam’un pun terikat kencang ketika dirinya tertidur.

Tatkala bangun dan ingin mendirikan shalat, Syam’un terkejut karena kedua kakinya terikat. “Wahai istriku, siapakah yang mengikatku dengan tali ini?” tanya sang nabi kepada istrinya.

“Aku yang mengikat karena sekadar ingin menguji sebesar apa kekuatanmu," jawab sang istri.

photo
Nabi Syamun atau Samson. - (dok,)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement