REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Otoritas Penerbangan Sipil Iran secara resmi mengumumkan penutupan seluruh ruang udara negara tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini diambil menyusul eskalasi militer yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026).
Juru bicara Organisasi Penerbangan Sipil Iran menyatakan, kebijakan tersebut didasarkan pada Notice to Airmen (NOTAM) yang telah diterbitkan. Langkah ini memaksa pembatalan seluruh jadwal penerbangan komersial dan melarang lintasan pesawat asing demi alasan keamanan nasional, lapor Mehr News.
Penutupan ruang udara ini terjadi di tengah laporan serangan rudal yang menghantam kawasan Jalan Universitas dan wilayah Jomhouri di Teheran seperti dilansir dari kantor berita Fars. Sementara itu, Al Jazeera mengonfirmasi serangan tersebut sebagai operasi militer gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Padahal, upaya diplomasi intensif baru saja dilakukan dalam 12 jam terakhir. Menteri Luar Negeri Oman, yang bertindak sebagai mediator utama, sempat bertemu dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, di Washington untuk meredam konfrontasi. Namun, serangan tetap terjadi hanya dua hari setelah putaran terakhir negosiasi tidak langsung antara Teheran dan Washington.
Di sisi lain, Kedutaan Besar AS di Qatar telah menginstruksikan seluruh personel dan warga negaranya untuk berlindung di tempat (shelter-in-place). Sementara itu, militer Israel memberlakukan status "aktivitas esensial" di seluruh negeri, menutup sekolah dan membatasi kerumunan massal guna mengantisipasi serangan balasan.
Téhéran, Il s'agit d'une opération conjointe avec les Américains pic.twitter.com/pxnb7nBeO2
— GENGIS KHAN 🇫🇷 🇮🇱 🌿 (@GENGIS9999) February 28, 2026




