Selasa 10 Feb 2026 19:49 WIB

Jenderal Purn Israel Prediksi Hancurnya Negeri Zionis Sebelum 2048, Konflik Internal Pemicu Terbesar

Angka emigrasi Israel meningkat 39 persen pada 2024 dibanding tahun sebelumnya.

Tentara Israel menghadiri pemkaman rekannya yang tewas di Gaza, di pemakaman militer Mount Herzl di Yerusalem, 27 April 2025.
Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN
Tentara Israel menghadiri pemkaman rekannya yang tewas di Gaza, di pemakaman militer Mount Herzl di Yerusalem, 27 April 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV — Seorang jenderal pensiunan Israel mengungkapkan peringatan keras kepada warganya jika negara itu berpotensi runtuh sebelum mencapai usia satu abad pada 2048 mendatang.

Melalui sebuah artikelnya yang diterbitkan di Surat Kabar Maariv, Mayor Jenderal (Purn) Itzhak Brik mengatakan, negara tersebut saat ini berada di jalan menuju kehancuran. Dia mengatakan, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan Israel.

Baca Juga

"Ketika saya mencoba melihat ke depan," tulis Brik dalam surat kabar yang dikutip oleh Palestine Chronicle. "Saya bertanya-tanya: akankah Negara Israel mencapai usia 100 tahun?" 

Artikel tersebut membingkai pertanyaan ini bukan sekadar retorika, melainkan kekhawatiran strategis yang nyata. Menurut Brik, krisis yang dihadapi Israel tidak terbatas pada ancaman keamanan, melainkan bersumber dari kemerosotan internal yang terakumulasi di tingkat politik, sosial, dan institusional.

Ia menggambarkan Israel sebagai masyarakat yang tercabik-cabik dari dalam. Brik menunjuk pada meluasnya permusuhan "antara kelompok sayap kanan dan kiri, serta antara Yahudi dan Arab—sebuah keretakan yang menurutnya kini membentuk kehidupan sehari-hari, wacana politik, hingga kohesi militer.

photo
Pasukan Israel menghentikan pengungsi Palestina yang berusaha kembali ke kamp pengungsi Nur Shams selama operasi militer Israel di dekat kota Tulkarem, Tepi Barat, 9 Februari 2026. - (EPA/ALAA BADARNEH)

Krisis kepemimpinan

Brik melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan politik. Dia berargumen bahwa lembaga-lembaga negara semakin tunduk pada kepentingan kelangsungan politik ketimbang strategi nasional.

Merujuk pada pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, ia menulis bahwa Israel dipimpin oleh kepemimpinan yang "memprioritaskan kelangsungan politik di atas kepentingan publik." Ia pun menyebut gaya kepemimpinan tersebut "picik dan tidak memiliki arah."

Ia memperingatkan, tata kelola seperti itu merusak perencanaan jangka panjang, terutama di negara yang menghadapi konfrontasi keamanan berkelanjutan dan tekanan ekonomi.

"Tantangan yang kita hadapi—memulihkan keamanan di utara dan selatan, membangun kembali ekonomi, serta memperbaiki hubungan internasional—membutuhkan energi yang hanya dimiliki oleh mereka yang masih memiliki masa depan panjang di depan mereka," tulis Brik, seraya mendesak adanya perubahan generasi dalam kepemimpinan politik.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement