REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M melakukan gladi posko operasional Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) di Asrama Haji Pondok Gede, Rabu.
Kegiatan tersebut dirancang untuk mensimulasikan situasi puncak haji yang dikenal sebagai fase paling berat dan kritis dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Dalam simulasi itu, peserta dihadapkan pada berbagai skenario lapangan, mulai dari pergerakan jamaah, layanan konsumsi, hingga penanganan krisis di tengah kepadatan massa.
Kepala Satuan Operasional (Kasatops) Armuzna Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Surnadi, yang memantau langsung jalannya gladi, menegaskan bahwa fase Armuzna tidak memberikan ruang bagi kesalahan.
Mengingat prinsip "Al-Hajju Arafah" atau Haji adalah Arafah, kehadiran petugas yang sigap dan paham tugas pokok serta fungsinya menjadi kunci keberhasilan layanan.
"Kegiatan yang disaksikan dalam gladi ini bertujuan agar petugas benar-benar memahami tugas dan fungsinya masing-masing. Di Armuzna, koordinasi adalah nyawa operasional," ujar Surnadi.
Lebih jauh, Surnadi menekankan mentalitas pemecah masalah atau problem solver yang harus dimiliki setiap petugas. Dalam situasi riil di Tanah Suci, petugas akan berhadapan dengan jamaah lansia, jamaah dengan risiko tinggi (risti), hingga jamaah yang terpisah dari rombongan.
"Tugas utama kita saat Armuzna adalah melayani jamaah yang mendapatkan kesulitan. Prinsipnya, tidak boleh ada permasalahan yang dialami jamaah yang tidak ditemukan solusinya oleh petugas. Petugas haji harus hadir, responsif, dan menuntaskan masalah di tempat," kata Surnadi.




