Rabu 21 Jan 2026 15:05 WIB

Aksi Para Mahasiswa STIQ Ar-Rahman Bantu Korban Bencana Aceh, Pengabdian untuk Sesama

Mahasiswa STIQ Ar-Rahman bertugas selama hampir satu bulan.

Mahasiswa STIQ Ar-Rahman bertugas selama hampir satu bulan.
Foto: Dok Istimewa
Mahasiswa STIQ Ar-Rahman bertugas selama hampir satu bulan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Sebanyak 10 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ar-Rahman telah kembali ke kampus setelah menuntaskan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sebagai relawan kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh.

Para relawan diberangkatkan pada Kamis 18 Desember 2025, dari AQL Islamic Center dan dilepas langsung oleh KH Bachtiar Nasir. Setelah menjalani pengabdian hampir satu bulan, para mahasiswa kembali ke kampus pada Senin, 19 Januari 2026.

Baca Juga

Mahasiswa yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini adalah mahasiswa semester satu, tiga, dan lima dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), dan juga Program Studi Ilmu Hadis (IH).

Mereka adalah M Lathiful Hakim, Ahmad Ibnu Mubarok, Eko Saputra, Fahri Rumaday, Gus Rumasisin, Ahmad Mubasyir, Asyraf Anwar, Aditya Pranata, Ibnu Khattab, dan Zakaria.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa STIQ Ar-Rahman berkolaborasi dengan sejumlah lembaga sosial di bawah naungan AQL Islamic Center, antara lain AQL Peduli, Laznas AQL, dan Wakaf Qur’an, serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat.

Kegiatan difokuskan pada wilayah-wilayah terisolasi yang telah melalui proses asesmen lapangan, khususnya di Kabupaten Aceh Timur, meliputi Desa Babo, Pante Kera, dan Batu Sumbang, yang hingga kini belum mendapatkan aliran listrik secara normal.

Warga di daerah tersebut selama ini hanya mengandalkan panel surya sebagai sumber penerangan. Selain itu, relawan juga menjangkau sejumlah desa di Kabupaten Aceh Tamiang.

Selama masa pengabdian, para relawan menjalankan berbagai program kemanusiaan, di antaranya trauma healing bagi anak-anak dan orang dewasa melalui kegiatan pendampingan dan hiburan untuk membantu pemulihan psikologis warga pascabencana.

Relawan juga melakukan aksi bersih-bersih rumah warga yang terdampak banjir dan lumpur. Salah seorang warga terdampak, Dara, menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan para relawan. “Makasih banyak ya, Dek. Kalau saya sendiri mungkin ini tidak akan selesai,” ujarnya.

Selain itu, relawan mendistribusikan berbagai bantuan logistik ke wilayah sulit dijangkau, seperti sembako, pakaian, perlengkapan mandi, alas tidur, obat-obatan, lampu surya, serta perlengkapan khusus perempuan.

Melalui program Satu Rumah Satu Cahaya, tim relawan menyalurkan panel surya ke desa-desa yang belum memiliki akses listrik, seperti Batu Sumbang dan Pante Kera. Yazid, warga Desa Batu Sumbang, mengaku terharu dengan bantuan tersebut.

“Ibu-ibu sangat senang, apalagi yang punya anak. Selama ini menyusui di malam hari tanpa lampu,” katanya.

Relawan juga mendirikan dapur umum yang menyediakan makanan tiga kali sehari bagi warga terisolasi, khususnya di wilayah Tanah Terban, Aceh Tamiang.

Warga setempat mengungkapkan bahwa dapur umum tersebut sangat membantu karena peralatan masak mereka hanyut terbawa banjir.

Di bidang keagamaan, para relawan menyalurkan Alquran ke masjid-masjid dan wilayah terdampak, serta melakukan pembersihan masjid yang masih dipenuhi lumpur.

Warga Desa Tipa menyampaikan rasa syukur karena akhirnya dapat kembali mengaji setelah menerima bantuan Alquran.

Salah satu relawan, M Lathiful Hakim, menuturkan keterlibatannya sebagai tim asesmen memberikan banyak pelajaran berharga.

“Setiap hari kami turun ke desa dan mendengarkan keluhan warga. Tidak semuanya menyambut dengan senang, ada juga yang meluapkan emosi. Itu wajar mengingat apa yang mereka alami. Tugas kami adalah mendengarkan, tidak menghakimi, dan memberi rasa aman,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kondisi Aceh hingga saat ini belum sepenuhnya pulih dan masih membutuhkan perhatian berbagai pihak.

“Aceh belum baik-baik saja. Jangan kita terlena dengan pemberitaan yang tidak penting dan unfaedah, karena saudara-saudara kita di sini masih membutuhkan uluran tangan,” katanya.

Para relawan berharap proses pemulihan Aceh dapat segera terwujud, khususnya dalam aspek pemulihan psikologis anak-anak korban bencana, serta adanya perhatian dan langkah konkret dari pemerintah agar penanganan pascabencana berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement