Senin 12 Jan 2026 23:37 WIB

3 Pilihan Suram yang Harus Dihadapi Trump Jelang Perang dengan Iran

Iran tegaskan akan melawan jika diserang.

Presiden AS Donald Trump
Foto: Xinhua/Hu Yousong
Presiden AS Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Analis geopolitik Bobby Ghosh menggambarkan gambaran suram tentang pilihan-pilihan yang dihadapi Presiden AS Donald Trump dalam menangani protes yang meningkat di Iran. Trump tidak memiliki pilihan yang baik atau bahkan sedang.

Dalam artikel yang diterbitkan oleh majalah Time Amerika Serikat, dia menulis bahwa Trump telah menerima laporan tentang pilihan-pilihan untuk melakukan serangan militer di Iran.

Baca Juga

Penulis artikel tersebut berpendapat bahwa pesan ini tidak hanya ditujukan kepada para mullah yang berkuasa di Teheran. "Tetapi juga kepada kita semua. Ia ingin kita percaya bahwa ia akan menyelamatkan para demonstran Iran."

Ghosh mencatat, Presiden telah mengeluarkan peringatan "agresif" selama beberapa hari dengan nada yang semakin keras terhadap Teheran, seiring dengan berlanjutnya protes rakyat di sana.

Pada Senin dini hari, Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan serangkaian tanggapan terhadap kerusuhan yang meningkat di Iran, termasuk opsi militer yang mungkin, seiring dengan berlanjutnya protes yang melanda negara itu.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Pesawat Kepresidenan, dia menegaskan bahwa negaranya memiliki opsi yang sangat kuat terhadap Iran.

"Kami akan menanggapi dengan tegas setiap tindakan, dan kami akan menyerang Iran dengan cara yang belum pernah mereka lihat sebelumnya jika mereka melakukan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa."

Menanggapi pernyataan tersebut, Gush mengatakan bahwa kata-kata Presiden itu kuat, jenis yang populer di saluran berita dan media sosial, dan menganggap bahwa "inilah Trump yang kita kenal," yang terbiasa mengancam dan menakut-nakuti sebagai kebijakan.

Dia menambahkan, pernyataan tersebut mencerminkan sebagian dari kepribadian Presiden yang bertekad untuk menjadi berbeda dari pendahulunya, Barack Obama dan Joe Biden, karena dia ingin menjadi orang yang benar-benar mengambil tindakan.

Menurut artikel tersebut, retorika keras Trump meningkatkan ekspektasi orang-orang Iran yang mempertaruhkan nyawa mereka, sekutu-sekutunya di Teluk yang mengamati situasi dengan cemas, dan orang-orang terdekatnya yang mendesaknya untuk bertindak.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement