REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kata Ramadhan terdapat dalam surah al-Baqarah dalan konteks pembicaraan mengenai puasa dan Alquran.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)" (QS al-Baqarah [2]: 185).
Secara bahasa, istilah ramadhan dari kata ramidha yarmadhu (sangat panas). Dikatakan ramidhan nahaaru (siang yang sangat panas), masyasy syakhasu ‘alar ramdha’ (seorang berjalan di atas batu-batu yang sangat panas), ramidhatil ardh (sangat panas matahari menimpa bumi).
Alquran menggunakan istilah ramadhan untuk nama bulan ke sembilan dari urutan bulan-bulan hijriah, yaitu setelah bulan Sya’ban dan sebelum bulan Syawwal.
Di bulan Ramadhan ini, kaum Muslimin diwajibkan berpuasa. Ajaran berpuasa ini tidak hanya untuk umat Islam akhir zaman, tetapi juga untuk umat terdahulu.




