Ahad 21 Dec 2025 16:29 WIB

Tingkatan Manusia dalam Perjalanan Menuju Allah

Kehidupan di dunia ini adalah masa mengisi bekal untuk akhirat.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Hasanul Rizqa
Kaligrafi lafaz Allah
Foto: dok wiki
Kaligrafi lafaz Allah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibnu Qayyim al-Jauziyah memandang kehidupan manusia sebagai perjalanan ruhani menuju Allah SWT. Sejak lahir hingga wafat, manusia menempuh safar panjang yang fase-fasenya adalah hari dan malam, sementara amal serta pilihan hidup menjadi bekal penentu apakah seseorang sampai ke rumah kebahagiaan atau justru menuju tempat celaka.

Dalam Thariqul Hijratain wa Baabus Saadatain, Ibnu Qayyim membuat pengelompokan berdasarkan cara insan menempuh perjalanan tersebut dan kesungguhan dalam mempersiapkan bekal akhirat.

Baca Juga

Umur adalah waktu perjalanan, dan setiap hari serta malam merupakan tahap yang mesti dilalui hingga akhir perjalanan. Musafir yang cerdas adalah mereka yang mampu mengambil pelajaran dari setiap fase, menjalaninya dengan kesadaran, serta menghindari sifat menunda-nunda (taswif), malas, dan lalai. Ia memandang hidup sebagai perjalanan singkat sehingga ringan baginya untuk beramal dan menyiapkan bekal. Ketika tabir dunia tersingkap dan akhirat menanti, orang semacam ini layak memperoleh kebahagiaan sejati.

Dalam menempuh perjalanan ini, manusia terbagi dua kelompok besar. Pertama, mereka yang berjalan menuju keadaan celaka. Setiap fase yang dilalui justru menjauhkan mereka dari Allah karena dipenuhi kemaksiatan serta menentang perintah-Nya. Hari-hari mereka diisi kesenangan semu dan dorongan setan, sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah Maryam ayat 83.

اَلَمْ تَرَ اَنَّآ اَرْسَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ تَؤُزُّهُمْ اَزًّاۙ

"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Kami telah mengutus setan-setan kepada orang-orang kafir untuk benar-benar menggoda mereka (berbuat maksiat)?"

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement