Senin 22 Jul 2024 20:57 WIB

Houthi Ancam Serang Saudi, Muhammadiyah Imbau Negara-negara Arab Silaturahim

Negara-negara Arab kini seperti kehilangan arah, tak jelas siapa lawan, siapa kawan.

Rep: Muhyiddin/ Red: Hasanul Rizqa
Ketua PP Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas.
Foto: Darmawan/Republika
Ketua PP Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelompok bersenjata Houthi di Yaman mengancam akan menyerang infrastruktur penting di Arab Saudi jika Riyadh dinilai terus membantu Israel. Dalam rilis terbaru, Houthi menyatakan, tidak akan ragu mengincar Bandara Internasional King Khalid di ibu kota Suadi dan Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah.

Menanggapi hal itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Buya Anwar Abbas mendesak negara-negara Arab agar bersatu. Alih-alih saling bersitegang, Houthi-Yaman dan Riyadh sebaiknya bersilaturahim dan merapatkan barisan untuk melawan Israel.

Baca Juga

"Saya berkeyakinan, adalah sangat sulit sekali bagi rakyat Palestina dan negara-negara Arab untuk menghadapi dan membendung gerak dari Israel karena mereka berpecah belah," ujar Buya Anwar saat dihubungi Republika.co.id, Senin (22/7/2024).

Dia pun mengutip perkataan tokoh Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal Besar Sudirman. Pak Dirman pernah menyatakan, kunci kemenangan terletak pada soal ketersambungan hati antarsatu warga dengan warga lainnya.

"Seperti dikatakan Jenderal Sudirman, jika kalian ingin menang, maka kalian harus kuat. Untuk bisa kuat, kalian harus bersatu; dan untuk bisa bersatu, maka silaturahim antara kalian harus kuat. Yang terakhir inilah yang tidak ada dan tidak dimiliki oleh dunia Arab saat ini. Menyedihkan sekali," ujar Buya Anwar menjelaskan.

Ketua PP Muhammadiyah ini memandang, negara-negara Arab sekarang ini seperti kehilangan arah. Tidak jelas lagi bagi mereka siapa lawan dan siapa kawan, serta apa yang harus mereka lakukan.

"Semestinya yang mereka jadikan musuh itu adalah tindak penjajahan dan tindak yang menginjak-injak nilai-nilai perikemanusiaan dan perikeadilan," kata Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Sejak tahun 1948 hingga kini, Israel terus menjajah Palestina. Terkini, milter zionis (IDF) masih saja melancarkan genosida atas penduduk Jalur Gaza. Karena itu, menurut Buya Anwar, negara-negara Arab seharusnya berfokus untuk menghadapi Israel secara bersama-sama.

"Seandainya negara-negara Arab tidak berhasil mengendalikan pergerakan Israel, maka nanti pada waktunya bagian dari negara Arab tersebut akan dicaplok oleh Israel yang berkeinginan untuk membentuk sebuah negara baru yang lebih luas: Israel Raya. Ini mencakup bukan hanya Palestina, tetapi juga Jordania, sebagian Arab Saudi, Suriah, dan Lebanon," kata dia.

"Kelihatannya, mereka (negara-negara Arab) baru akan tersadar setelah negara Israel Raya berdiri. Di saat itulah mereka menyesal, mengapa dahulu tidak bersatu sehingga hal pahit yang mereka alami itu tidak harus terjadi," sambung Buya Anwar.

Sebelumnya, lewat cuplikan video yang dirilis Departemen Media Houthi, Ahad (21/7/2024), pihak Houthi mengancam akan menyerang objek-objek vital milik Saudi, seperti Bandara Internasional King Khalid, Bandara Internasional King Abdulaziz, Bandara Internasional King Fahd, serta beberapa pelabuhan di Ras Tanura, Jizan, dan Jeddah.

Seperti dikutip Middle East Monitor, video itu berlatar narasi dari pemimpin Houthi, Abdul Malik Al-Houthi, yang mengatakan, "Amerika mengirimkan pesan kepada kami bahwa mereka akan menekan rezim Saudi agar mengambil langkah agresif."

Menyinggung langsung kerajaan Saudi, Houthi menambahkan, "Amerika berusaha untuk menjerat kalian (Saudi), dan jika Anda mau, coba saja. Jika Anda menginginkan kebaikan pada diri Anda, stabilitas negara dan ekonomi Anda, maka hentikan konspirasi melawan negara kami."

Israel membombardir kota pelabuhan Hodeidah di Yaman pada Sabtu (20/7/2024). IDF melakukannya sebagai balasan atas serangan drone Houthi ke Tel Aviv sehari sebelumnya. Beberapa analis mempertanyakan, bagaimana mungkin Israel bisa membombardir wilayah Yaman tanpa bantuan ruang-udara di negara-negara Arab sekitar Yaman, termasuk Arab Saudi.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Brigadir Jenderal Turki al-Maliki, seperti dikutip Saudi Gazette, menegaskan bahwa pihak Kerajaan tidak akan mempersilakan entitas manapun menyalahi aturan batas ruang-udara Saudi. Ia juga menampik isu bahwa Saudi berkaitan dengan serangan atas Pelabuhan Hodeidah, Sabtu lalu.

"Kerajaan tidak memiliki hubungan atau keterlibatan dalam penargetan Hodeidah, dan Kerajaan tidak akan mengizinkan entitas mana pun melanggar wilayah udaranya," kata Al-Maliki dalam sebuah pernyataan di media sosial X pada Ahad (21/7/2024).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement