Selasa 16 Jul 2024 11:58 WIB

Berbagai Lokasi Dakwah Para Nabi Allah

Mulai dari Palestina hingga Irak, inilah lokasi dakwah para nabi Allah.

Ilustrasi Rasulullah SAW. Sebelum beliau, sejumlah nabi dan rasul diutus oleh Allah ke pelbagai lokasi.
Foto: Republika/Mardiah
Ilustrasi Rasulullah SAW. Sebelum beliau, sejumlah nabi dan rasul diutus oleh Allah ke pelbagai lokasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran menyebutkan sebanyak 25 nabi dan rasul utusan Allah SWT. Dari jumlah tersebut, ada sejumlah nabi yang diutus untuk berdakwah di wilayah Jazirah Arab, Mesir, Syam dan Palestina, serta Irak.

Nabi dan rasul yang diutus di wilayah Arab--termasuk Makkah--adalah Nabi Adam, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Ismail, Nabi Syuaib, dan Nabi Muhammad SAW. Adapun nabi yang diutus di wilayah Mesir adalah Nabi Yusuf, Nabi Musa, dan Nabi Harun AS.

Baca Juga

Selain itu, ada pula nabi dan rasul yang diutus di wilayah Syam (Suriah) dan Palestina. Dari 25 nabi dan rasul Allah, kedua wilayah itulah yang paling banyak menerima nabi-nabi utusan Allah.

Mereka adalah Nabi Luth, Nabi Ishak, Nabi Ya’kub, Nabi Ayub, Nabi Zulkifli, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan Nabi Isa AS.

Sementara itu, nabi yang diutus di wilayah Irak berjumlah empat orang, yakni Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim AS, dan Nabi Yunus AS.

Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam kitabnya, Athlas Tarikh al-Anbiya wa ar-rusul, menyebutkan, semua nabi dan rasul yang diperintahkan oleh Allah SWT bertugas untuk menyeru umat manusia agar senantiasa beriman kepada Allah dan berbuat kebajikan, serta menjauhi segala keburukan.

Para nabi dan rasul Allah tersebut diutus dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid [57]: 25).

Penutup para nabi-rasul

Muhammad SAW adalah sang khatam al-anbiya, penutup para nabi. Ini pun sudah dikabarkan, bukan hanya dalam Alquran, melainkan juga kitab-kitab Allah sebelum itu, termasuk Injil dan Taurat.

وَاِذۡ قَالَ عِيۡسَى ابۡنُ مَرۡيَمَ يٰبَنِىۡۤ اِسۡرَآءِيۡلَ اِنِّىۡ رَسُوۡلُ اللّٰهِ اِلَيۡكُمۡ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَىَّ مِنَ التَّوۡرٰٮةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ يَّاۡتِىۡ مِنۡۢ بَعۡدِى اسۡمُهٗۤ اَحۡمَدُ‌ؕ فَلَمَّا جَآءَهُمۡ بِالۡبَيِّنٰتِ قَالُوۡا هٰذَا سِحۡرٌ مُّبِيۡنٌ

"Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, 'Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).' Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, 'Ini adalah sihir yang nyata'" (QS as-Saf: 6).

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Mahamengetahui segala sesuatu" (QS al-Ahzab: 40)

Dan tanda-tandanya sebagai seorang nabi dan rasul adalah seorang anak yatim, senantiasa dilindungi awan, perkataannya selalu baik dan dipuji orang.

Dan para ahli bahasa memberikan makna terhadap kalimat "khatama" dalam surah al-Ahzab ayat 40 itu dengan "al-Istitsaqu wal man'u." Artinya, memastikan dan menolak sesuatu.

Dengan demikian, Alquran menyebutkan Muhammad sebagai "khatamannabiyyin." Pasti dan tidak ragu bahwa beliau sebagai nabi terakhir. Firman Allah ini menolak orang yang mengaku nabi di kemudian hari.

Menurut para mufasir, ada tiga tafsiran tentang kata "khatamannabiyyin" tersebut. Pertama, "khatamannubuwwah", penutup kenabian. Kedua, Allah menyempurnakan kenabian dan rasul sejak awal sampai akhir dengan diutusnya Rasulullah SAW. Ketiga, Muhammad paling akhir di antara para nabi Allah yang diutus.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement