Rabu 10 Jul 2024 10:40 WIB

Guru Potong Rambut Siswi tak Pakai Ciput, Ahli Pendidikan Islam: Kedepankan Empati

Seharusnya guru tidak potong rambut yang tak pakai ciput.

Rep: Muhyiddin/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi siswi muslimah.
Foto: AFP
Ilustrasi siswi muslimah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di lingkungan pendidikan Indonesia masih banyak oknum guru yang melakukan bullying saat mendisplinkan siswanya. Pada 2023 lalu misalnya, seorang oknum guru di Lamongan memotong rambut belasan siswanya yang berhijab lantaran tidak memakai ciput.

Pemotongan rambut siswi itu pun dianggap sebagai cara mendidik yang keliru. Bahkan, Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakartaini, Prof Sri Sumarni menilai sanksi hukuman yang diberikan oknum guru merupakan sebagai tindakan bullying yang tidak sesuai dengan nafas pendidikan.

Baca Juga

"Segala bentuk bullying tentu itu sangat tidak sesuai dengan nafas pendidikan. Apalagi sampai bullying fisik. Itu bullying fisik dan bullying psikis. Dua-duanya," ujar Prof Sri saat dihubungi Republika Selasa (8/7/2024).

Menurut dia, sanksi hukuman seperti itu justru akan membuat siswa mengalami trauma seumur hidup. Bahkan, jika guru tidak berhati-hati, siswa tersebut bisa mengalami depresi karena kejadian itu.

"Itu membunuh karakter, membunuh masa depan anak, bahkan membunuh kehidupan anak. Seolah-olah dia sudah pada titik nol, dipermalukan. Jadi itu bullyingnya sudah sangat tingkat tinggi, fisik dan psikis," ucap Prof Sri.

Pakar pendidikan Islam ini menegaskan, segala bentuk bullying sekarang ini sudah dilarang di dalam pendidikan. Karena, menurut dia, telah banyak kasus bullying yang menyebabkan anak didik itu depresi.

"Ada yang gantung diri, bahkan ada yang tidak mau lagi sekolah, masa depan suram dan seterusnya," kata dia.

Prof Sri sendiri sudah sering menjumpai kasus bullying di sekolah. Misalnya, ada siswa yang tidak mau lagi sekolah lantaran dibully. Sementara, orang tidak tahu kalau anaknya itu dibully terus di sekolah. Sehingga, anak pun menjadi depresi.

"Jadi kemudian ada menyiksa dirinya, ada yang kemudian merusak lingkungan juga ada," jelas dia.

Karena menyiksa dirinya, lanjut dia, anak itu pun sampai kurus. Saat pertama kali melihat foto siswa korban bully itu, Prof Sri pun menangis. Ia tidak tega melihat anak itu kurus lantaran dibully.

"Padahal saya hanya melihat fotonya. Fotonya anaknya teman saya itu. Jadi segala bentuk bullying ya. Dan bullying psikis itu kadang-kadang juga lebih menusuk juga loh daripada bullying fisik," ujar Prof Sri.

Dia melihat di semua sekolah sekarang ini masih ada kasus bullying. Karena itu, menurut dia, gerakan anti bullying harus menjadi perhatian dari semua pihak. Sehingga, kedepannya tercipta lingkungan pendidikan yang sehat seperri negara?negara maju.

"Di Jepang itu bahkan ada simulasi bagaimana anak itu tidak boleh menyakiti temannya. Ada simulasi seperti itu. Tentu ya di negara kita ini harus segera," ucap dia.

Di kalangan guru sendiri, menurut dia, terkadang menyadari dengan bahaya bullying. Namun, karena empatinya dangkal, oknum guru itu masih saja melakukan bullying terhadap siswanya.

"Jadi sebenarnya modal menjadi guru itu sebenarnya yang utama adalah karakter empati. Rasa empati itu sebenarnya modal utama," kata dia.

Dia mengatakan, panggilan jiwa seorang guru itu yang pertama adalah rasa empati itu. Karena itu, menurut dia, ketika ada siswa yang melakukan pelanggaran di sekolahnya, seorang guru harus mengedepankan empatinya.

"Jadi guru itu harus mengedepankan rasa empatinya itu untuk memperbaiki anak," jelas Prof Sri.

Dia mencontohkan, ketika misalnya ada siswa yang kancing bajunya lepas, maka hendaknya seorang guru itu membawakan kancing itu dari rumah dan memasangkannya. Begitu pun ketika ada siswa yang tidak memakai ciput, maka guru itu harus bisa mengupayakannya.

"Dengan demikian anak itu akan juga timbul rasa empati. Jadi jika kita ingin memperbaiki anak itu, maka menggunakan kebaikan-kebaikan, sehingga itu akan menular juga ke anak itu," ucap dia.

Menurut dia, kebaikan-kebaikan yang ditunjukkan gurunya itu juga akan diingatnya seumur hidup. Setelah itu, siswa itu akan terinspirasi dengan gurunya untuk berbuat baik juga kepada orang lain.

"Kita memperbaiki anak itu dengan kebaikan, maka kita akan menjadi pendidik yang inspiratif. Didahului dengan rasa empati dan menyebar kebaikan," kata Prof Sri.

"Jadi hukumannya bukan malah dibully," ucap dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement