Jumat 02 Feb 2024 11:45 WIB

PBB Luncurkan Permohonan Bantuan Sebesar Rp 62,7 Triliun untuk Yaman

Dukungan mendesak diperlukan bagi lebih dari 18,2 juta warga Yaman.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Setyanavidita livicansera
 Seorang anak Yaman berdiri di tempat penampungan keluarganya di sebuah kamp Pengungsi Internal (IDP) di pinggiran Sana
Foto: EPA-EFE/YAHYA ARHAB
Seorang anak Yaman berdiri di tempat penampungan keluarganya di sebuah kamp Pengungsi Internal (IDP) di pinggiran Sana

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA – PBB dan para mitranya telah meluncurkan permohonan bantuan senilai 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 62,7 triliun untuk penyediaan bantuan bagi Yaman tahun ini. Negara tersebut diketahui menghadapi krisis kemanusiaan akibat perang dan konflik selama hampir satu dekade.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan, dari empat miliar dolar AS yang diajukan, 2,7 miliar dolar di antaranya akan digunakan untuk penyediaan bantuan dan layanan perlindungan penyelamat jiwa. Sementara 1,3 miliar dolar lainnya bakal dialokasikan untuk keperluan pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga

OCHA mengungkapkan, sebanyak 17,6 juta warga Yaman diperkirakan menghadapi kerawanan pangan akut pada 2024. “Yaman mengalami tingkat malnutrisi tertinggi yang pernah tercatat dan situasinya terus memburuk,” katanya, dikutip laman Al Arabiya.

Koordinator kemanusiaan PBB di Yaman, Peter Hawkins, mengatakan, dukungan mendesak diperlukan bagi lebih dari 18,2 juta warga sipil di negara tersebut. Dia mengingatkan bahwa selama sembilan tahun terakhir, masyarakat Yaman menghadapi penderitaan luar biasa akibat konflik, kemerosotan ekonomi, dan terdisrupsinya layanan dan infrastruktur publik.

 

“Kita tidak boleh mengabaikan rakyat Yaman. Saya memohon kepada para donor atas dukungan mereka yang berkelanjutan dan mendesak untuk menyelamatkan nyawa, membangun ketahanan, dan juga mendanai intervensi yang berkelanjutan,” kata Hawkins.

Konflik di Yaman telah berlangsung sejak 2014. Krisis di sana memburuk sejak koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan operasi militer untuk mendukung pasukan pemerintah melawan milisi Houthi pada 2015. Sejak September 2014, Houthi telah berhasil merebut dan menguasai ibu kota Yaman, Sanaa.

Dalam konflik Yaman, Saudi diketahui mendukung pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Saudi berkeinginan menumpas Houthi karena kelompok tersebut dipandang sebagai ancaman terhadap keamanannya.

Houthi memang cukup sering meluncurkan serangan udara, termasuk drone, ke wilayah Saudi. Selama ini Houthi memperoleh dukungan dari Iran.

Namun menyusul adanya normalisasi diplomatik antara Saudi dan Iran pada Maret 2023, hal itu turut berdampak pada hubungan Saudi dengan Houthi. Tahun lalu, perwakilan Saudi dan Houthi telah terlibat perundingan untuk menyelesaikan konflik Yaman. Perundingan dilaporkan berjalan positif, tapi belum bermuara pada sebuah kesepakatan.  

Menurut PBB, konflik Yaman telah merenggut 223 ribu nyawa. Dari 30 juta penduduknya, 80 persen di antaranya kini bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup. PBB telah menyatakan bahwa krisis Yaman merupakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement