Selasa 30 Jan 2024 13:53 WIB

Pemimpin Dewan Nasional Muslim Kanada Batalkan Pertemuan dengan Trudeau

Insiden Islamofobia meningkat sejak pecahnya perang antara Israel dan Hamas.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Setyanavidita livicansera
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.
Foto: AP Photo/Adek Berry
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.

REPUBLIKA.CO.ID, OTTAWA – Pemimpin Dewan Nasional Muslim Kanada, Stephen Brown, membatalkan agenda pertemuan dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau pada Senin (29/1/2023). Pembatalan dilakukan karena Trudeau dipandang tidak melakukan upaya yang cukup untuk mengekang kejahatan Israel dan membantu warga Palestina di Jalur Gaza.

“Kami tidak lagi berpikir produktif berbicara dengan perdana menteri ini,” kata Brown dalam konferensi pers di Ottawa, dikutip laman Anadolu Agency. Brown mengungkapkan, Trudeau tidak menekan Israel untuk berhenti melakukan pengeboman di Gaza. “Kami tertarik pada pemerintah yang mengambil tindakan nyata untuk mengurangi Islamofobia di negara ini (dan) mengambil tindakan nyata untuk menghentikan permusuhan di Timur Tengah,” ujarnya.

Baca Juga

Pembatalan pertemuan antara Brown dan Trudeau terjadi beberapa jam sebelum politisi federal dan provinsi, para tokoh Muslim serta lainnya berkumpul di Quebec untuk menghadiri upacara peringatan tujuh tahun pembunuhan enam pria Muslim di Masjid Pusat Kebudayaan Islam. Jika pertemuan dengan Trudeau terlaksana, salah satu isu yang hendak dibahas Brown adalah tentang Islamofobia atau kebencian anti-Islam di Kanada.

Menurut Brown, Trudeau gagal menepati janjinya yang digaungkan pada pemilu 2025, yakni mendanai program untuk mengurangi kejahatan rasial. Di dalamnya termasuk pemasangan kamera pengawas di masjid-masjid di Kanada.

 

“Sudah jelas bahwa kami tampaknya hanya mendapatkan sedikit reformasi kebijakan ketika nyawa atau keselamatan kita hancur. Pemerintah kita telah gagal untuk menerapkan undang-undang substantif mengenai kejahatan kebencian,” kata Brown.

Insiden Islamofobia meningkat sejak pecahnya perang antara Israel dan Hamas di Gaza pada 7 Oktober 2023. Kepolisian Toronto mengungkapkan, perang Israel-Hamas menyebabkan peningkatan kejahatan rasial lebih dari 104 persen antara 7 Oktober 2023 hingga 17 Desember 2023.

Hingga saat ini perang antara Israel dan Hamas masih berlangsung di Gaza. Lebih dari 26.400 warga Gaza telah terbunuh sejak Israel memulai agresinya pada 7 Oktober 2023. Sebagian besar korban jiwa adalah perempuan dan anak-anak.

Sementara itu korban luka melampaui 65 ribu orang. Menurut PBB, 85 persen penduduk Gaza telah menjadi pengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan. Sementara 60 persen infrastruktur di wilayah tersebut, termasuk di dalamnya fasilitas kesehatan dan rumah sakit, rusak atau hancur. 

sumber : anadolu
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement