Senin 13 Nov 2023 16:20 WIB

Tahun Politik, Pesantren Dinilai Berperan Besar Cegah Intoleransi

Pesantren selalu menjadi primadona serta rebutan para kontestan politik tiap pemilu.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Ilustrasi Pondok Pesantren
Foto: ANTARA/NOVRIAN ARBI
Ilustrasi Pondok Pesantren

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengasuh Pondok Pesantren Al Fath Kota Bekasi KH Taufik Abdul Hamid menegaskan peran strategis pesantren dalam mengawal perdamaian dan toleransi di Indonesia. Dalam momentum tahun politik ini, dia pun menilai pesantren mampu berperan besar dalam mencegah tindakan intoleransi.

Menurut Kiai Taufik, pesantren sejauh ini telah membantu pemerintah mencegah radikalisme dan terorisme yang mengoyak persatuan dan bangunan kebangsaan.

Baca Juga

"Jumlah pesantren seluruh Indonesia tergolong besar, 39.043 pesantren yang memungkinkan pesantren mampu memainkan peran dan pengaruh yang sangat besar terhadap keberlangsungan upaya mencegah intoleransi," ujar Kiai Taufik dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Senin (13/11/2023).

Di sisi lain, menurut dia, jumlah pesantren yang sangat besar tersebut juga membuat pesantren selalu menjadi primadona serta rebutan para kontestan politik di setiap perhelatan akbar demokrasi lima tahunan.

 

"Pesantren juga menjadi rebutan para kontestan bacaleg, cawalkot/cawalbub, cagub bahkan capres-cawapres," ucap dia.

Lebih lanjut, dia mengatakan, jika pemerintah dan penyelenggara, serta semua stakeholder pemilu tidak serius untuk menciptakan iklim damai dalam penyelenggaraan pemilu, maka perbedaan politik sangat memungkinkan berpotensi munculnya benih intoleran di Indonesia.

"Jika ada satu dua oknum atau beberapa oknum stakeholder tidak serius menciptakan suasana damai dalam perpolitikan di Indonesia bahkan menjadi provokator demi kepentingan politiknya sesaat maka bahaya besar akan muncul," kata dia.

Dia pun mendukung langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dalam rangka mencegah radikalisme di Indonesia, mulai dari pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di setiap kota di Indonesia, hingga pemberdayaan mantan napiter yang sudah insaf dan bertaubat untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat.

"Kesemuanya itu akan dapat mengurangi intoleransi, radikalisme, dan terorisme di Indonesia," jelas Kiai Taufik.

Sejauh ini, Kiai Taufik sendiri juga sudah menunjukkan komitmen perlawanannya terhadap intoleransi dan radikalisme. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Taufik mengaku selalu menyelipkan pesan-pesan toleransi, perdamaian dan persatuan, baik di sosial media, ceramah keagamaan, kuliah, hingga seminar.

"Saya sangat mendukung, bahkan tanpa dimintapun saya telah lama menyuarakan toleransi, kedamaian, persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini dapat dilihat dari jejak digital penulis di medsos atau dalam seminar, PKD, ceramah, kuliah-kuliah dan lain-lain," kata Kiai Taufik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement