Rabu 08 Nov 2023 17:30 WIB

PM Inggris Desak Rencana Demonstrasi Pendukung Palestina Dibatalkan

Demonstrasi dijadwalkan berlangsung di London pada Sabtu pekan ini.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Pengunjuk rasa pro Palestina berkumpul di luar Downing Street di ibukota Inggris, London .
Foto: Arabnews.com
Pengunjuk rasa pro Palestina berkumpul di luar Downing Street di ibukota Inggris, London .

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mendesak kelompok pro-Palestina untuk membatalkan demonstrasi menentang perang Israel di Gaza. Demonstrasi dijadwalkan berlangsung di London pada Hari Gencatan Senjata.

Penyelenggara unjuk rasa sejauh ini menolak permintaan kepolisian Metropolitan ibu kota Inggris untuk menunda demonstrasi yang direncanakan pada Sabtu pekan ini. Puluhan ribu orang diperkirakan turun ke jalan menuntut gencatan senjata segera karena Israel terus membombardir Gaza tanpa henti.

Baca Juga

"Kami terus percaya perencanaan protes pada Hari Gencatan Senjata adalah sikap yang provokatif dan tidak hormat. Maka, kami mendesak penyelenggara untuk mempertimbangkan kembali," kata Juru Bicara Perdana Menteri Inggris, dilansir The New Arab, Rabu (8/11/2023).

Dia mengungkapkan, pemerintah akan dengan hati-hati mempertimbangkan permohonan apa pun dari polisi untuk menghentikan aksi protes tersebut. Namun, tanggapan berbeda datang dari kepolisian.

Komisaris Polisi Metropolitan Mark Rowley mengatakan menurut undang-undang, tidak ada kewenangan mutlak untuk melarang protes kecuali dalam kasus yang paling ekstrem. Karena itu, dia menyebut akan ada protes di akhir pekan ini.

"Saat ini, intelijen seputar potensi gangguan serius pada akhir pekan ini belum memenuhi ambang batas untuk mengajukan larangan," tambahnya.

Sejumlah anggota senior partai Konservatif yang berkuasa menyatakan kemarahannya atas rencana protes pada 11 November mendatang di London itu. Unjuk rasa tersebut perlu dilarang sebagai wujud memperingati berakhirnya pertempuran dalam Perang Dunia I dan pengorbanan personel angkatan bersenjata dalam semua konflik sejak 1914.

Menteri Dalam Negeri Suella Braverman bahkan mencap protes tersebut sebagai pawai kebencian. Kelompok-kelompok pengunjuk rasa pendukung Palestina belum mengindikasikan mereka berencana untuk melakukan demonstrasi tersebut. Namun, beberapa pihak khawatir protes mereka pada hari Sabtu akan mengganggu peringatan Hari Gencatan Senjata 11 November.

London telah menjadi tempat demonstrasi besar-besaran selama beberapa pekan terakhir sejak Israel memulai serangannya ke Gaza, dan Kementerian Kesehatan wilayah kantong Palestina mencatat lebih dari 10.300 kematian.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement