Kamis 02 Nov 2023 06:05 WIB

Palestina Insya Allah Merdeka, Berikut Fakta Konkretnya

Protes terhadap Netanyahu kian meluas di Israel.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ani Nursalikah
Seorang pria Palestina menggendong seorang anak yang meninggal saat yang lain mencari korban di antara puing-puing bangunan yang hancur pasca serangan udara Israel di kamp pengungsi Jabaliya di pinggiran Kota Gaza, Selasa, (31/10/2023).
Foto: AP Photo/Abdul Qader Sabbah
Seorang pria Palestina menggendong seorang anak yang meninggal saat yang lain mencari korban di antara puing-puing bangunan yang hancur pasca serangan udara Israel di kamp pengungsi Jabaliya di pinggiran Kota Gaza, Selasa, (31/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Agresi yang dilakukan Israel kepada Palestina pada 2023 ini boleh dikatakan yang paling kejam yang pernah ada di muka bumi. Namun demikian, justru optimisme harus dibangun untuk kemerdekaan Palestina. Apa alasannya?

Dosen di Universitas Islam Gaza Ahed Abu Al Atta menjabarkan sejumlah alasan tentang faktor-faktor pendukung yang memberi harapan kemerdekaan dan kemenangan bagi Palestina. Berikut penjabarannya.

Baca Juga

Pertama, Israel tak lagi solid.

Dia menjelaskan bahwa di internal Israel telah terbelah dua tentang agresi terhadap Palestina. Hal ini membuat Israel secara politik tak lagi solid. Sehingga walaupun saat ini Israel terlihat memimpin perang dibandingkan Palestina, namun secara internal mereka telah terpecah.

Belum lagi, masyarakat Israel pun kian memprotes agresi yang dilancarkan. Mereka tidak setuju dengan kebijakan pemerintahnya.

Kedua, Palestina justru solid.

Baik warga Palestina maupun pemerintahnya berada dalam satu faksi yang sama. Yakni faksi perlawanan terhadap penjajahan Israel. Sehingga, tidak ada satu pun warga Palestina yang ingin menyerah dan mundur dari perjuangan merebut kemerdekaan.

Ketiga, protes terhadap Netanyahu kian meluas di Israel.

Citra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kian disorot. Aksi protes demi protes terhadap sikap militer yang diambil Netanyahu kerap dikritik oleh warganya sendiri.

Keempat, dukungan masyarakat internasional.

Hingga saat ini, masyarakat internasional terus memberikan dukungan kepada Palestina. Baik itu masyarakat yang berada di negara-negara sekutu Israel, negara-negara Islam, maupun di luar itu.

Kelima, gerakan boikot produk Israel meluas.

Gerakan memboikot produk-produk Israel kian meluas. Secara global, gerakan ini telah menjadi arus utama perbincangan dan gerakan di beberapa negara.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH Muhyiddin Junaidi pun menambahkan salah satu hal yang membuat Palestina hingga saat ini tetap bertahan dari beragam gempuran Israel adalah karena faktor Hamas yang kuat. Hamas dinilai merupakan tentara elite yang terlatih dan sangat memahami medan.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement