Jumat 30 Jun 2023 08:19 WIB

Alasan Mengapa Manusia Harus Tetap Berikhtiar dan Jangan Tuntut Hasil?

Ikhtiar dalam menjalani hidup adalah sangat mulia di sisi Allah SWT

Rep: Imas Damayanti / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi ikhtiar. Ikhtiar dalam menjalani hidup adalah sangat mulia di sisi Allah SWT
Foto: ANTARA
Ilustrasi ikhtiar. Ikhtiar dalam menjalani hidup adalah sangat mulia di sisi Allah SWT

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA –  Dalam agama, manusia ditekankan untuk senantiasa melakukan upaya (ikhtiar) dalam hal apa pun, terutama dalam kebaikan yang sedang dilakukan. Mengapa demikian?

Pakar Ilmu Alquran KH Ahsin Sakho mengatakan, manusia harus tetap berikhtiar sepanjang hidupnya. Meski hasil akhir dari ikhtiar yang diupayakan hanyalah hak prerogatif yang Allah tentukan.

Baca Juga

"Misalnya, semua orang yang belajar tidak semuanya bisa menjadi pintar. Tapi tetap kita harus belajar. Mengapa? Karena Allah yang menentukan hasilnya," kata Kiai Ahsin dalam kajian live streaming, di Ahsin Sakho Center, Senin (26/6/2023), sebagaimana dikutip Republika.co.id, Jumat (30/6/2023). Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat An-Najm ayat 39-42: 

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ

Yang artinya, "Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu).

Kiai Ahsin menjabarkan, Qarun merupakan contoh seorang manusia yang sombong akibat memperoleh kekayaan. Qarun pernah berkata bahwa kekayaan yang dia peroleh adalah hasil jerih payahnya sendiri.

"Padahal dia lupa, boleh jadi seorang pedagang bisa kaya raya karena memang Allah menghendaki. Dia jual produk pertanian, misalnya, Allah SWT gerakkan petani untuk menanam dengan baik, Allah perintahkan tanah untuk menjalankan fungsinya, kemudian ketika jadi produk, Allah SWT gerakkan hati orang-orang untuk membeli. Jadi setelah ikhtiar, kita harus ingat bahwa Allah SWT ada (kekuasaan-Nya) di balik itu semua," ujar dia.

Baca juga: Masuk Islam, Zilla Fatu Putra Umaga Pegulat WWE Ini Beberkan Alasannya yang Mengejutkan

Ketercapaian suatu rencana dan keinginan bukanlah satu tujuan, melainkan sebuah ujian. Boleh jadi, di situlah ujian sesungguhnya. Kita harus mampu mensyukuri, menjalani, dan memenuhi sejumlah harapan yang menyertai keberhasilan itu dengan niat untuk meraih keridhaan-Nya. Allah SWT berfirman: 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

"Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih keridhaan Allah. Dan Allah Mahapenyantun terhadap hamba-hamba-Nya," (QS al-Baqarah: 207).

Tak ada puncak kenikmatan hidup selain mendapatkan ridha-Nya. Rasulullah SAW bersabda: 

عن أبي سعيد الخدري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إن الله تعالى يقول لأهل الجنة: يا أهل الجنة، فيقولون: لبيك ربنا وسعديك، والخير كله في يديك، فيقول: هل رضيتم؟ فيقولون: وما لنا لا نرضى يا رب، وقد أعطيتنا ما لم تعط أحداً من خلقك؟ فيقول: ألا أعطيكم أفضل من ذلك؟ فيقولون: يا رب، وأي شيء أفضل من ذلك؟ فيقول: أحل عليكم رضواني فلا أسخط عليكم بعده أبداً

"Sesungguhnya Allah berfirman kepada penghuni surga: Hai penghuni surga! Mereka menjawab: Kami penuhi seruan-Mu wahai Tuhan kami, dan segala kebaikan ada di sisi-Mu. Allah melanjutkan: Apakah kalian sudah merasa puas? Mereka menjawab: Kami telah merasa puas wahai Tuhan kami, karena Engkau telah memberikan kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu. Allah bertanya lagi: Maukah kalian Aku berikan yang lebih baik lagi dari itu? Mereka menjawab: Wahai Tuhan kami, apa yang lebih baik dari itu? Allah menjawab: Akan Aku limpahkan keridaan-Ku atas kalian sehingga setelah itu Aku tidak akan murka kepada kalian untuk selamanya." (HR Muslim dari Abu Said Al-Khudri). 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement