Jumat 19 May 2023 20:01 WIB

Prediksi Imam Masjid Istiqlal soal Politik Identitas di Pemilu 2024

Kematangan beragama dan berpolitik masyarakat Indonesia semakin bagus.

Rep: Febryan A/ Red: Muhammad Hafil
Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasaruddin Umar memberikan ceramah dalam peringatan malam Nuzurul Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (8/4/2023). ICMI berkerjasama dengan  Masjid Istiqlal menyelenggarakan peringatan malam Nuzurul Quran dan berharap memonetum Nuzurul Quran ini menjadikan sebagai Quran sumber inspirasi.
Foto: Republika/Prayogi
Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasaruddin Umar memberikan ceramah dalam peringatan malam Nuzurul Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (8/4/2023). ICMI berkerjasama dengan Masjid Istiqlal menyelenggarakan peringatan malam Nuzurul Quran dan berharap memonetum Nuzurul Quran ini menjadikan sebagai Quran sumber inspirasi.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA --  Imam Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar memprediksi penggunaan politik identitas akan berkurang pada Pemilu 2024. Politik identitas diketahui masif digunakan sejumlah pihak untuk kepentingan pemenangan Pemilu 2019 lalu. 

"Insya Allah, kalau saya bayangkan itu (penggunaan politik identitas) nanti akan mereda," kata Nasaruddin kepada wartawan di KPU RI, Jakarta, Jumat (19/5/2023), usai memimpin audiensi sejumlah pimpinan majelis-majelis tinggi agama dengan pimpinan KPU RI. 

Baca Juga

Nasaruddin menjelaskan, penggunaan politik identitas, terutama identitas agama, bakal mereda karena masyarakat Indonesia kini sudah semakin matang dalam beragama. Masyarakat juga kian matang dalam berpolitik. 

"Kematangan beragama, kematangan berpolitik masyarakat Indonesia semakin bagus ya. Coba kita lihat ya teman-teman kita berbeda partai politik tapi bisa makan bareng, bisa saling bayarin," ujar Guru Besar bidang Tafsir di UIN Syarif Hidayatullah itu. 

Nazaruddin juga mengatakan bahwa dirinya dan sejumlah tokoh agama dari majelis-majelis tinggi agama siap turun tagan untuk mencegah politik identitas agama digunakan dalam kontestasi Pemilu 2024. Hal ini lah yang dibicarakan Nasaruddin dan tokoh agama lainnya ketika beraudiensi dengan pimpinan KPU RI. 

"Ini sebuah tradisi baru yang akan kami lakukan, kerja sama majelis tinggi agama dengan KPU. Saya kira, ini belum pernah dilakukan sebelumnya, bagaimana supaya emosi keagamaan tidak dilibatkan terlalu jauh untuk memperjuangkan suatu kepentingan jangka pendek. Maksudnya, bagaimana supaya pesta demokrasi itu tidak mengganggu harmoni antarumat beragama," ujarnya. 

Kerja sama antara KPU dan pimpinan umat beragama itu, lanjut dia, akan ditindaklanjuti dengan memberikan arahan kepada anggota majelis-majelis agama di tingkat daerah. Arahannya tentu agar mengajak masyarakat untuk tidak melibatkan emosi keagamaan dalam Pemilu 2024. 

"Jangan sampai nanti, hanya untuk kepentingan sesaat, kita melibatkan emosi keagamaan tidak pada tempatnya," kata salah satu Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2022-2027 itu. 

Selain itu, dirinya dan tokoh agama lainnya juga bersedia membantu KPU mengingatkan para peserta pemilu agar tidak menggunakan rumah ibadah sebagai tempat kampanye. Dia pun mengajak para politisi untuk tidak mencederai persaudaraan antarumat saat Pemilu 2024.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement