Rabu 15 Mar 2023 17:34 WIB

Dorong Inklusivitas, Muslim AS Serukan Upaya Global Perangi Islamofobia

Prevalensi Islamofobia terungkap di AS segera setelah serangan 9/11 pada 2001.

 Ilustrasi Islamofobia. Dorong Inklusivitas, Muslim AS Serukan Upaya Global Perangi Islamofobia
Foto: Foto : MgRol_93
Ilustrasi Islamofobia. Dorong Inklusivitas, Muslim AS Serukan Upaya Global Perangi Islamofobia

REPUBLIKA.CO.ID, HOUSTON -- PBB telah mendeklarasikan 15 Maret sebagai Hari Internasional Memerangi Islamofobia. Hal ini bertujuan mengambil tindakan nyata dalam menghadapi meningkatnya kebencian, diskriminasi dan kekerasan terhadap Muslim.

“Hari peringatan ini seolah memberi tahu saya kita benar-benar memiliki masalah, masalah besar, yang membuat PBB keluar dan mengakui bahwa Islamofobia adalah masalah dunia dan menentangnya,” kata anggota Masyarakat Islam di Houston Raya, Heisam Galyon, dikutip di Anadolu Agency, Rabu (15/3/2023).

Baca Juga

Galyon mengatakan satu-satunya cara mengatasi Islamofobia adalah dengan menyebarkan pesannya ke dunia, persis seperti yang dilakukan PBB. Ia percaya masalah ini harus terus dibicarakan dan tidak bisa diselesaikan jika tidak dibahas.

Ia mengakui diskriminasi terhadap Muslim adalah masalah lama. Dia mengatakan prevalensi Islamofobia terungkap di AS segera setelah serangan 9/11 pada 11 September 2001.

Mereka yang membenci Islam disebut melihat Muslim sebagai teroris, sebagai Usamah bin Laden. Kondisi ini dinilai sangat merugikan umat Islam di Amerika Serikat.

"Orang-orang yang memiliki pandangan netral tentang Islam, tiba-tiba mengembangkan pandangan negatifnya. Ini seperti setelah Pearl Harbor dalam Perang Dunia II, ketika AS membuat kamp-kamp interniran dan mendiskriminasi masyarakat Jepang yang tinggal di Amerika," kata dia.

Di sisi lain, ia percaya pemerintah harus melakukan bagian mereka, untuk menetapkan standar kebencian dan intoleransi dalam bentuk apa pun tidak dapat diterima. Setiap negara disebut harus mengesahkan beberapa undang-undang yang menjadikan Islamofobia sebagai kejahatan.

"Harus ada hukuman bagi orang yang menyerang Muslim atau menodai tempat ibadah mereka. Harus ada hukuman bagi orang yang melakukan kejahatan kebencian terhadap Muslim. Entah bagaimana, mereka harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakan dan kata-kata diskriminatif mereka," ujar dia.

Ketika mendeklarasikan Hari Internasional Melawan Islamofobia tahun lalu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan hampir dua miliar Muslim di seluruh dunia menghadapi kefanatikan dan prasangka, hanya karena keyakinan mereka. Ia juga menyebut wanita Muslim menderita diskriminasi tiga kali lipat, karena jenis kelamin, etnis dan iman mereka.

Guterres menyebut kondisi ini adalah bagian yang tak terhindarkan dari kebangkitan etno-nasionalisme, ideologi supremasi kulit putih neo-Nazi, serta kekerasan yang menargetkan populasi rentan termasuk Muslim, Yahudi, beberapa komunitas Kristen minoritas, dan lainnya.

Presiden Majelis Umum PBB Csaba Korosi juga menyampaikan Islamofobia berakar pada xenofobia, atau ketakutan terhadap orang asing. Hal tersebut tercermin dalam praktik diskriminatif, larangan bepergian, ujaran kebencian, intimidasi, dan penargetan orang lain.

Korosi lantas mendesak negara-negara di dunia untuk menjunjung tinggi kebebasan agama dan mengambil tindakan terhadap kebencian. “Kita semua memikul tanggung jawab untuk menantang Islamofobia atau fenomena serupa lainnya, menyerukan ketidakadilan dan mengutuk diskriminasi berdasarkan agama atau kepercayaan, atau kekurangannya,” kata dia.

PBB mengatakan semua negara harus menghadapi kefanatikan di mana pun dan kapan pun masalah itu muncul, termasuk menangani ujaran kebencian yang disebar secara daring. PBB juga disebut bekerja sama dengan pemerintah, regulator, perusahaan media dan teknologi untuk membuat pagar pembatas dan menegakkannya.

"Ini adalah masalah yang sangat besar. Ini adalah masalah internasional. Dan saya senang PBB mengakui hal ini," kata mantan presiden Asosiasi Muslim India di Greater Houston, Munir Ibrahim.

Ibrahim mengatakan saat ini Islamofobia di AS tidak pada tingkat ekstrem, seperti yang terjadi lebih dari dua dekade lalu setelah 9/11. Meski demikian, diskriminasi dan keterasingan terhadap Muslim masih merupakan masalah sosial yang perlu ditangani.

Islamofobia disebut memengaruhi umat Islam di semua negara, dari Eropa hingga Rusia, juga India, dan China. Ia menyebut cara terbaik untuk memerangi Islamofobia adalah menjelaskan masalah dan mendidik masyarakat tentang toleransi, pengertian dan kebaikan.

"Biarlah hari internasional ini menjadi katalis. Memerangi Islamofobia dan diskriminasi harus dikomunikasikan setiap hari," kata dia.

Di sisi lain, Ibrahim percaya toleransi adalah jalan dua arah. Non-Muslim disebut perlu memahami agama dan cara hidup yang berbeda, serta umat Islam perlu melakukan bagian mereka untuk bersikap toleran terhadap agama lain dan praktik agamanya.

Di Houston, umat Islam dinilai telah berhasil merangkul semua komunitas dan agama. Meski begitu, ia percaya Islamofobia masih menjadi perhatian utama yang dihadapi AS dan seluruh dunia.

sumber : https://www.aa.com.tr/en/world/muslims-in-us-call-for-global-efforts-to-combat-islamophobia-foster-inclusivity/2845898

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement