Jumat 10 Mar 2023 16:07 WIB

Islam Mengajarkan Perempuan agar Mampu Mencetak Generasi Unggul

Islam mendorong peran aktif perempuan dalam ranah keluarga

Rep: Muhyiddin / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi perempuan Muslimah. Islam mendorong peran aktif perempuan dalam ranah keluarga
Foto: Republika TV
Ilustrasi perempuan Muslimah. Islam mendorong peran aktif perempuan dalam ranah keluarga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Peristiwa unjuk rasa buruh di Prancis pada 8 Maret 1907 yang melibatkan banyak perempuan, dijadikan pijakan para intelektual Eropa untuk memperingati Hari Perempuan Internasional. Dalam konteks kekinian, perempuan harus diberdayakan untuk menyiapkan generasi unggul masa depan. 

“Para perempuan saat ini telah meraih pendidikan tinggi dan mampu menjawab tuntutan profesional. Di sisi lain, perempuan memiliki kodrat melahirkan. Di sinilah Islam mengajarkan perempuan yang salehah mampu merawat, dan membina menjadi generasi unggul,” ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia, KH Chriswanto Santoso. 

Baca Juga

Perempuan menempati tempat tersendiri dalam program kerja Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Menurut Kiai Chriswanto, sejak 1997, Lembaga Dakwah Islam Indonesia Jawa Timur mengadakan seminar perempuan yang rutin, menghadirkan para psikolog keluarga, manajer keuangan, ahli kesehatan, hingga ahli gizi.

“Perempuan yang berpengetahuan dan berwawasan dapat membina anak-anaknya dengan baik. Dengan demikian lahirlah generasi unggul,” kata dia. 

 

Perempuan memang tak sekadar memasak, membersihkan rumah, dan tugas-tugas lain sebagai istri. Mereka adalah manajer yang mengatur keuangan keluarga, “Tugas ini bertambah ketika perempuan juga memutuskan bekerja atau menjalankan aktivitas sosial. Untuk itu mereka harus mampu mengatur waktu, berbagi tugas dengan suami,” ujar dia.  

Hal senada disampaikan Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia, Siti Nurannisaa Paramabekti. Perempuan merupakan sasaran program pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), “Artinya dalam pembangunan tak ada satupun yang tertinggal, termasuk wanita,” ujarnya. 

Menurut Nisa, SDGs menempatkan perempuan sebagai salah satu sumberdaya manusia yang aktif berperan untuk memajukan diri, memperoleh pengetahuan, memperluas pemahaman, dan meningkatkan keterampilannya.

“Bonus demografi juga menjadi tantangan untuk memanfaatkan perempuan usia produktif yang dapat menjadi modal dasar, khususnya dalam aspek pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan perekonomian,” kata dia.

Pada era internet seperti saat ini, Nisa menukilkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UN Women, 37 persen wanita tidak menggunakan internet. Sebanyak 259 juta lebih sedikit perempuan yang memiliki akses ke internet dibandingkan laki-laki, walaupun jumlah mereka hampir setengah dari populasi dunia. 

Dia berpendapat, peningkatan literasi digital bagi para perempuan, memungkinkan terbukanya peluang untuk membangun diri dan lingkungannya. 

Dia menilai, jika perempuan tidak memperoleh akses dan kontrol pada sumberdaya tersebut dan tidak memiliki kemampuan dalam penggunaannya, maka mereka tidak dapat mengembangkan keterampilan digitalnya. 

Padahal, menurutnya, kemampuan tersebut sangat penting untuk pengembangan diri, sekaligus menghadapi kehidupan masa depan, khususnya pada peran pendidikan bagi generasi digital native (mereka yang lahir di lingkungan era digital). 

Untuk itu, kata dia, pemerintah, ormas, dan keluarga, dia harapkan menjadikan perempuan berdaya. Agar mereka mampu mengambil keputusan, teguh memfokuskan diri, mengerahkan energi dan perhatiannya pada apa yang bisa dilakukan. 

Menurutnya, perempuan yang berdaya memiliki dampak ke banyak hal. Pada peran keluarga misalnya, peran perempuan sebagai ibu, “al-ummu madrasatul ula” madrasah atau sekolah pertama bagi anaknya.

Baca juga: Muhammadiyah Resmi Beli Gereja di Spanyol yang Juga Bekas Masjid Era Abbasiyah

Apabila para perempuan dipersiapkan sebelumnya, maka sama dengan telah mempersiapkan generasi terbaik. Pada lingkup ruang publik perempuan juga dapat berpartisipasi dalam tugas-tugas sosial di bidang kesehatan, ekonomi, kesejahteraan, lingkungan dan lainnya. 

Pada perjalanannya memang ada beberapa hal yang perlu dikuatkan terlebih dahulu oleh diri perempuan itu sendiri. 

Pertama, perempuan harus menjadi sosok yang percaya diri, memiliki kemauan kuat dari dalam diri sendiri bahwa dirinya ingin maju. Mampu mengubah pola pikir diri sendiri, memiliki karakter membangun dengan keterlibatan dalam berbagai hal di lingkungannya. 

“Kedua, restu dan dukungan keluarga. Ketiga, saling menguatkan antarperempuan, memberikan inspirasi, serta berbagi cerita,” kata dia.      

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement