Sabtu 11 Feb 2023 18:00 WIB

Mahasiswa Western University Merasa Tidak Aman Sholat di Bawah Tangga

Kampus Western memiliki satu ruang sholat khusus Muslim.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
Ruang sholat Mahasiswa Western University.
Foto: About Islam
Ruang sholat Mahasiswa Western University.

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON -- Mushala yang ada di Western University, London, Ontario, hanya mampu menampung 35 orang. Selebihnya, sekitar 2000 mahasiswa terpaksa harus mencari tempat seadanya untuk menunaikan sholat.

Seorang mahasiswa teknik perangkat lunak tahun keempat, Abdullah Al Jarad, adalah salah satu dari banyak mahasiswa yang terpaksa melaksanakan shalat di ruang mana pun yang tersedia di kampus, terlepas dari kesesuaiannya untuk praktik keagamaan.

Baca Juga

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim (MSA) Universitas Western ini menyebut dirinya harus berjalan ke lantai empat Gedung Teknik Amit Chakma, untuk melaksanakan shalat di bawah tangga yang berdebu.

“Hal pertama, dari apa yang saya rasakan, adalah tidak aman. Tempat kami berdoa tidak terpantau dan tidak diawasi. Tidak ada kamera. Anda sendirian di ruang gelap itu dan sedang berdoa," ucap dia dikutip di About Islam, Sabtu (11/2/2023).

 

Saat ini, kampus Western memiliki satu ruang sholat khusus Muslim di ruang bawah tanah Pusat Komunitas Universitas dan ruang sholat antaragama di Middlesex College. Selama bertahun-tahun, mahasiswa Muslim mengatakan ini tidak cukup.

Wakil Presiden Hubungan Masyarakat MSA, Maryam Oloriegbe, menyebut mahasiswa Muslim di fakultas mana pun seharusnya memiliki ruang shalat yang dapat diakses oleh mereka di gedung mereka sendiri.

Lebih lanjut, ia menyebut ibadah shalat dan doa adalah suatu hal yang tidak bisa dinegosiasikan. Itu bukan sesuatu yang bisa ditunda begitu saja.

Kisah lain disampaikan oleh seorang mahasiswa teknik perangkat lunak tahun kedua, Mohamed El Dogdog. Ia mengatakan berjalan kaki dari gedung teknik ke mushala terdekat adalah perjalanan yang sangat jauh.

"Ini perjalanan yang sangat hauh untuk ditempuh dan kemudian Anda harus kembali ke kelas. Jika Anda memiliki kelas back to back, benar-benar tidak ada ruang untuk sholat," ujarnya.

Ketakutan akan serangan Islamofobia adalah faktor lain yang mempengaruhi siswa Muslim dalam beribadah. Al Jarad menyebut, kondisi yang ada seolah menempatkan mereka sebagai target terbuka bagi siapa saja yang memiliki pemikiran Islamofobia. Hal ini disampaikan merujuk pada serangan mematikan terhadap keluarga Afazaal di London pada Juni 2021.

Selanjutnya, ia menyoroti risiko yang menyertai, dari sisi kesehatan dan keselamatan orang. Terakhir, ruang-ruang sholat di bawah tangga ini disebut sebagai area sholat yang tidak bisa diakses.

“Ketika kami berdoa di tangga seperti itu, kami berdoa dengan penuh ketakutan. Anda tidak pernah tahu kapan Anda bisa menjadi target berikutnya," lanjut dia.  

Sumber:

https://aboutislam.net/muslim-issues/n-america/we-pray-with-fear-western-univ-students-pray-in-stairwell/

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement