Kamis 15 Dec 2022 22:29 WIB

Seperti Apakah Alquran Memandang Hakikat Manusia?

Allah SWT menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan

Rep: A Syalaby Ichsan / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi manusia. Allah SWT menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan
Foto: Antara
Ilustrasi manusia. Allah SWT menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Siapakah manusia itu? Allah SWT menjelaskan jati diri kita di dalam Alquran bahwa kita bukanlah siapa-siapa. 

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا  “Bukankah telah datang kepada manusia satu waktu dari masa, di mana ketika itu mereka belum menjadi sesuatu yang dapat disebut?” (QS al-Insan ayat 1). 

Baca Juga

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, dalam ayat ini, Allah SWT menceritakan keadaan manusia. 

Dia telah menciptakannya dan mengadakannya ke alam wujud ini. Padahal, sebelumnya dia bukanlah merupakan sesuatu yang disebut-sebut karena terlalu hina dan sangat lemah hanya berasal dari gabungan mani seperti ayat yang difirmankan selanjutnya.

 

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS al-Insan ayat 2-3).

Allah Ta'ala dengan kuasa-Nya menciptakan makhluk ini dengan pendengaran dan penglihatan. Manusia pun diberi akal dan nurani untuk mengontrol alat inderanya itu. 

Allah SWT memberi manusia dengan ujian berupa perintah dan larangan. Allah  SWT juga sudah memberi petunjuk berupa jalan yang lurus. Meski demikian, ada di antara mereka yang bersyukur ada pula yang kafir. 

Buya Hamka dalam buku Pelajaran Agama Islam sudah jauh-jauh hari mengingatkan kita tentang sifat manusia yang kerap lupa. 

Apabila kita lupa lalu timbul kesombongan lantaran nikmat yang dianugerahkan Allah SWT, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama itu mengajak agar manusia mengingat ayat tentang takdir. 

Dengan begitu, kita menyadari jika segala sesuatu yang ada pada diri ini hanya pinjaman dan ilmu pengetahuan belaka. 

Pada zaman itu, Buya Hamka bahkan sudah mengingatkan tentang kemajuan-kemajuan para bangsa pada abad ke-18 hingga 19. Mereka merasa bangga karena mendapat kepandaian baru. Mereka merasa dunia sudah dikuasainya. 

Pada abad ke-20, datanglah keruntuhan karena bekas tangan mereka sendiri. Tenaga atom yang diharapkan bisa memberi manfaat kepada manusia berubah fungsi menjadi bom atom dan hidrogen. Mereka yang membuatnya pun takut memikirkannya karena ini adalah pangkal kehancuran.   

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement