Kamis 15 Dec 2022 21:58 WIB

Mengapa Allah SWT Serukan Hamba-Nya untuk Sholat Malam?

Sholat malam mempunyai derajat masing-masing sesuai waktunya.

Rep: A Syalaby Ichsan / Red: Nashih Nashrullah
shalat tahajud/ilustrasi. Sholat malam mempunyai derajat masing-masing sesuai waktunya
shalat tahajud/ilustrasi. Sholat malam mempunyai derajat masing-masing sesuai waktunya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Mengapa Allah SWT menganjurkan para wali-Nya agar bangun pada sepertiga malam terakhir? Saat di mana kebanyakan orang-orang terlelap?

Bukankah tidur merupakan kebutuhan utama untuk beristirahat? Mengapa seorang Muslim perlu menggabungkan pekerjaan siang yang berat dengan bangun malam yang menyulitkan? 

Baca Juga

Sallamah Muhammad Abu al-Kamal dalam Mukjizat Shalat Malam menjelaskan, berdoa pada malam hari merupakan ibadah paling utama. Dalam kegelapan malam, permohonan seorang hamba yang menghinakan diri di hadapan Tuhannya yang Mahamulia pasti dikabulkan. 

Manusia pun membutuhkan lebih sekadar istirahat fisik yang melelahkan akibat bekerja keras sepanjang siang. 

 

Manusia butuh kekuatan spiritual untuk memulihkan kelelahan sehingga lebih bugar dan lebih siap secara mental untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan berikutnya. 

Cara paling efektif adalah sholat malam. Sholat ini menjadi kekuatan ruhaniah yang luar biasa yang pemiliknya ditakuti golongan jin dan setan. 

Saat manusia sudah terlatih dalam sholat malam, mereka tak akan canggung lagi dalam menghadapi momentum istimewa. 

Selama Ramadhan, ada malam Lailatul Qadar. Kado terbesar yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya pada Ramadhan yang istimewa.

Di sana, manusia-manusia yang beruntung akan memperoleh ganjaran yang lebih baik dari seribu bulan. Sudah sepatutnya sejak Sya'ban ini kita bersiap untuk meraihnya.  

Untuk 'melawan' kegelapan malam, para hamba didorong untuk melecut dirinya agar menyisakan sepertiga waktu istirahat untuk menghadap Allah SWT. 

Pekatnya malam akan bercahaya dengan usaha mereka dalam melawan kantuknya. Mereka memilih jalan menantang untuk merasakan dinginnya air saat berwudhu dan menggelar sajadah. Dia bersujud dalam sunyi.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman surga dan di mata airmata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang- orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS adz-Dzariyat ayat 15-18).  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement