Kamis 08 Dec 2022 11:40 WIB

Taliban Izinkan Ujian Kelulusan SMA untuk Anak Perempuan Afghanistan

Pelajar wanita Afghanistan mengeluhkan sikap Taliban.

Rep: Mabruroh/ Red: Muhammad Hafil
 Gadis-gadis Afghanistan berpartisipasi dalam pelajaran di Sekolah Menengah Wanita Tajrobawai di Herat, Afghanistan pada 25 November 2021.
Foto: AP/Petros Giannakouris
Gadis-gadis Afghanistan berpartisipasi dalam pelajaran di Sekolah Menengah Wanita Tajrobawai di Herat, Afghanistan pada 25 November 2021.

REPUBLIKA.CO.ID,KABUL — Seorang pejabat pemerintah Taliban mengatakan, gadis-gadis Afghanistan akan diizinkan untuk mengikuti ujian kelulusan sekolah menengah mereka pekan ini, meskipun mereka telah dilarang dari ruang kelas sejak Taliban mengambil alih negara itu tahun lalu.

Menurut dua dokumen dari kementerian pendidikan Taliban, yang diperoleh The Associated Press, keputusan tersebut berlaku untuk 31 dari 34 provinsi Afghanistan di mana liburan sekolah musim dingin dimulai pada akhir Desember.

Baca Juga

Kepala departemen pendidikan Kabul, Ehsanullah Kitab, mengatakan ujian akan berlangsung pada hari Rabu. Dia tidak memberikan perincian lain dan tidak jelas berapa banyak gadis remaja yang akan dapat mengikuti ujian.

Salah satu dokumen menyebutkan ujian akan berlangsung dari pukul 10.00 hingga 13.00 waktu Afghanistan. Dokumen kedua, yang ditandatangani oleh Menteri pendidikan Habibullah Agha yang menjabat pada September, mengatakan ujian akan diadakan di 31 provinsi Afghanistan.

Sedangkan tiga provinsi yang dikecualikan antara lain Kandahar, Helmand dan Nimroz yang memiliki jadwal berbeda untuk tahun ajaran dan ujian kelulusan sekolah menengah.

“Ini konyol. Kami menghabiskan satu tahun penuh di bawah tekanan dan belum membaca satu halaman pun dari buku teks kami,” kata Najela (18) dari Kabul.

“Bagaimana mungkin kita bisa mengikuti ujian setelah satu setengah tahun Taliban menutup pintu sekolah,” tambahnya.

Taliban menyerbu Afghanistan pada Agustus 2021 ketika pasukan AS dan NATO berada di minggu-minggu terakhir penarikan mereka dari negara itu setelah 20 tahun perang.

Meskipun pada awalnya menjanjikan aturan yang lebih moderat dan hak-hak perempuan dan minoritas, mereka telah membatasi hak dan kebebasan dan secara luas menerapkan interpretasi mereka yang keras terhadap hukum Islam.

Mereka telah melarang anak perempuan dari sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, membatasi perempuan dari sebagian besar pekerjaan, dan memerintahkan mereka untuk mengenakan pakaian dari kepala hingga ujung kaki di depan umum. Wanita juga dilarang dari taman, pusat kebugaran, dan pasar malam.

Perempuan tidak ditolak akses ke universitas di bawah Taliban dan implikasi dari perkembangan terbaru adalah bahwa gadis Afghanistan yang memperoleh ijazah SMA setelah ujian hari Rabu akan dapat mendaftar ke universitas.

Seorang kepala sekolah menengah Kabul berkata bahwa dia diberitahu, anak perempuan kelas dua belas hanya memiliki satu hari untuk mengikuti ujian dalam 14 mata pelajaran, dengan 10 pertanyaan dari setiap mata pelajaran. 

Kepala sekolah, yang berbicara tanpa menyebut nama karena takut akan pembalasan, mengatakan sebagian besar siswa perempuan tidak memiliki buku teks.

"Memberi ujian tidak ada artinya," kata dia.

Para siswa dan guru perempuan mereka semua harus mengenakan jilbab, di bawah kode berpakaian Taliban untuk perempuan, dan ponsel dilarang selama ujian. Anak perempuan yang tidak dapat hadir atau gagal dalam ujian hari Rabu akan diizinkan untuk mengikuti ujian kembali pada pertengahan Maret, setelah liburan musim dingin.

Perlakuan Taliban terhadap perempuan dan anak perempuan di Afghanistan mendapat kecaman keras. Awal bulan ini, tim ahli PBB mengatakan itu mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan harus diselidiki dan dituntut berdasarkan hukum internasional, sebuah tuduhan yang ditolak oleh Taliban.

Sumber:

https://www.newarab.com/news/taliban-allow-high-school-graduation-exams-afghan-girls

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement