Jumat 04 Nov 2022 15:38 WIB

Ini Alasan R20 tak Hadirkan Pembicara dari Palestina dan Israel

Tokoh agama dari berbagai negara tampil sebagai pembicara dalam Forum R20

Rep: Muhyiddin/ Red: Agung Sasongko
Forum R20 dihelat di Bali pada Rabu-Kamis, 2-3 November 2022. Hadir saat pembukaan, Sekjen Liga Muslim Dunia, Syekh Mohammad bin Abdul Karim Al-Issa, Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf. Hadir pula mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, Menkopolhukam, Mahfud MD, Menko PMK, Muhadjir Effendy, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, dan Menteri BUMN, Erick Thohir.
Foto: istimewa
Forum R20 dihelat di Bali pada Rabu-Kamis, 2-3 November 2022. Hadir saat pembukaan, Sekjen Liga Muslim Dunia, Syekh Mohammad bin Abdul Karim Al-Issa, Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf. Hadir pula mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, Menkopolhukam, Mahfud MD, Menko PMK, Muhadjir Effendy, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, dan Menteri BUMN, Erick Thohir.

REPUBLIKA.CO.ID,BADUNG -- Tokoh agama dari berbagai negara tampil sebagai pembicara dalam Forum Religion of Twenty (R20) yang digelar pada 2-3 November 2022 di kawasan Nusa Dua Bali, Kabupaten Badung. Namun, dalam sidang paripurna tidak terdapat pembicara dari Palestina maupun Israel, yang mana kedua negara sejak lama larut dalam konflik.

Juru Bicara Forum R20, Muhammad Najib Azca mengungkapkan alasan pihaknya tidak menghadirkan pembicara dari Palestina dan Israel. “Jadi, memang kita untuk sementara belum menghadirkan pembicara dari Palestina. Karena memang kita memang tidak berbicara mengenai persoalan antar bangsa,” ujar Najib kepada Republika usai penutupan R20 di kawasan Nusa Dua Bali, Kamis (3/11/2022).

Baca Juga

“Ini kan juga tidak ada dari Israel, ini kan para Yahudi yang hidup di berbagai tempat, ada yang dari Argentina, dari Amerika. Jadi, memang kita tidak ngundang dari Israel juga,” imbuhnya.   

Dia menjelaskan, R20 hanya mengundang beberapa tokoh agama Yahudi dari negara-negara lain yang justru mereka membuka ruang untuk perdamaian. “Yang kita cari adalah para tokoh agama yang di dalam mereka sendiri, Yahudi sendiri misalnya, justru melakukan reformasi besar-besaran yang itu membuka ruang untuk perdamaian,” ucap Najib.

Dia mengatakan, para tokoh dan pemikir Yahudi yang hadir dalam forum R20 tersebut memiliki pandangan yang progresif dan menafsirkan ulang teks-teks dalam agama Yahudi. “Yang itu kemudian memiliki implikasi yang besar bagi ruang untuk terciptanya perdamiaan. Kira-kira begitu,” kata Najib.

Najib menegaskan, R20 yang digelar untuk pertama kalinya ini memang tidak berbicara mengenai konflik antara agama atau antar satu negara dengan yang lain, tapi bagaimana semua agama-agama melakukan reaktualisasi atau kajian kritis terhadap teks agama masing-masing untuk mendukung perdamaian.

“Jadi yang menarik ini justru karena banyak Yahudi, tapi orang Yahudi yang gampangnya kalau mau dibilang, mendukung perdamaian. Jadi tidak mendukung perang. Soal perdamaian bagaimana itu dicapai, itu memang butuh proses,” jelas Wasekjen PBNU ini.

“Kami yakin dengan cara berani membaca ulang teks-teks klasik dalam agama, termasuk Yahudi, maka ruang bagi perdamian akan lebih besar,” imbuhnya.

Namun, tambah dia, kedepannya akan ada peluang bagi R20 untuk mengundang tokoh agama dari Palestina maupun dari Israel. “Tapi ada peluang ke depan,” ujar Najib.

Untuk diketahui, Forum Agama G20 atau R20 digelar PBNU bersama Liga Muslim Dunia atau Muslim World League (MWL) di Nusa Dua Bali pada 2-3 November 2022. Ada 338 partisipan yang hadir pada perhelatan R20, yang berasal dari 32 negara. Sebanyak 124 peserta berasal dari luar negeri dan sisanya merupakan partisipan Indonesia. Forum tersebut menghadirkan 45 pembicara dari lima benua.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement