Kamis 03 Nov 2022 14:23 WIB

Apresiasi Pesan Jokowi di Forum R20, Pengamat: Keragaman Indonesia Jadi Rujukan Dunia

Jokowi memberikan pesan damai di Forum R20.

Apresiasi Pesan Jokowi di Forum R20, Pengamat: Keragaman Indonesia Jadi Rujukan Dunia. Foto:  Forum R20 dihelat di Bali pada Rabu-Kamis, 2-3 November 2022. Hadir saat pembukaan, Sekjen Liga Muslim Dunia, Syekh Mohammad bin Abdul Karim Al-Issa, Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf. Hadir pula mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, Menkopolhukam, Mahfud MD, Menko PMK, Muhadjir Effendy, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, dan Menteri BUMN, Erick Thohir.
Foto: istimewa
Apresiasi Pesan Jokowi di Forum R20, Pengamat: Keragaman Indonesia Jadi Rujukan Dunia. Foto: Forum R20 dihelat di Bali pada Rabu-Kamis, 2-3 November 2022. Hadir saat pembukaan, Sekjen Liga Muslim Dunia, Syekh Mohammad bin Abdul Karim Al-Issa, Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf. Hadir pula mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, Menkopolhukam, Mahfud MD, Menko PMK, Muhadjir Effendy, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, dan Menteri BUMN, Erick Thohir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Direktur Eksekutif Indonesian Muslim Crisis Center (IMC2), Robi Sugara mengatakan, pesan damai yang disuarakan Jokowi dalam Forum R20 sebagai langkah yang tepat.

Mengingat Indonesia memiliki pengalaman keragaman beragama yang kuat, dan para pemuka agama aktif mendukung menyerukan kepada pengikutnya untuk mendukung kebijakan pemerintah sehingga mendorong kuatnya solidaritas dan persatuan bangsa ini di tengah-tengah situasi krisis. 

Baca Juga

“Saya kira bahwa R20 itu forum yang menurut saya bagus banget ya, sangat mendidik dalam konteks misalkan untuk kembali menyuarakan peran agama,” ujar Robi, Kamis (3/11/2022).

Menurut Dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta, pemimpin tokoh agama itu perlu mendorong agama sebagai sumber perdamaian, seperti halnya memberikan sebuah seruan agar menghentikan perang antara Rusia dan Ukraina.

Religion 20 (R20) akan menjadi ajang untuk membahas isu-isu fundamental dan sensitif mengenai agama atau antaragama. Acara ini menjadi pintu masuk diplomasi internasional Indonesia, dengan memberi tempat lebih lapang bagi isu keagamaan.

“Pentingnya peran agama dalam peran untuk kemudian berkontribusi secara global juga sebenarnya, saya kira peran agama juga harus menekan negara-negara yang kebijakan kepada perang ya,” ujarnya.

“Rusia misalkan sekarang harus ada juga saya kira di forum itu (R20) mengeluarkan statement itu, statement di mana bahwa yang menjadi korban itu adalah masyarakat yang masyarakatnya adalah umumnya beragama,” imbuhnya.

Untuk menyongsong perdamaian dunia, Robi menjelaskan keberagaman pemeluk agama di Indonesia dan Pancasila dapat dijadikan contoh untuk dirumuskan dalam forum internasional tersebut, supaya menghasilkan kesepakatan yang memiliki nilai-nilai Pancasila.

“Pancasila yang menurut saya juga harus di branding di R20 ini, bukan kemudian kita menyombongkan atau menihilkan ideologi-ideologi yang dianut oleh ini lain,” ujarnya.

“Tetapi harusnya juga saya kira internasional itu punya semacam itu, semacam seperti Pancasila. Nah ini yang dimiliki oleh kita, saya kira dan sampai hari ini kita masih bisa berdiri ya, NKRI masih berdiri ya karena Pancasila itu,” sambungnya.

Lanjut Robi, Indonesia bersyukur memiliki Pancasila, pasalnya rumusan Pancasila telah menempuh perjalanan panjang yang dirumukan berdasarkan percikan-percikan dialektika agama, budaya dan keberagaman lainnya di Indonesia.

“Ini yang kita saya kira harus syukur ya, sehingga apa yang terjadi kemudian bahwa dari situ kita menghasilkan kebijakan politik luar negeri kita itu bebas aktif,” katanya.

Robi menyatakan kestabilan politik dalam negeri relatif lebih terjaga jika dibandingkan dengan negara lain yang mudah tersulut perpecahan dan memicu konflik.

“Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Afghanistan belum punya komponen yang kuat masih rentan, kemudian Rusia juga sebenarnya kan institusinya adalah atheis tetapi kemudian mendapatkan penekanan yang cukup keras dari kelompok-kelompok agama sehingga harus merubah hubungan atheis nya dengan kelompok agama,” jelasnya.

“Kita ini tidak perlu melakukan kompromi karena Pancasila itu adalah bentuk dari kompromi kesepakatan seluruh agama dan elemen budaya begitu,” pungkas Robi.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pesan penting tentang peran agama dan para tokoh agama dalam Forum Religion of Twenty (R20) di Bali, Rabu (2/11/2022). 

Menurut Jokowi, keberadaan para tokoh agama mampu menghadirkan nilai dan ajaran agama supaya dapat berkontribusi dalam upaya menyelesaikan berbagai masalah dunia, termasuk rivalitas dan perang yang menimpa beberapa negara di dunia.

"Yang juga sangat penting adalah kita tokoh agama dari berbagai agama dan dari berbagai negara harus bekerja sama. Bekerja sama untuk meningkatkan kontribusi agama menyelesaikan masalah-masalah dunia, untuk mengurangi rivalitas dan menghentikan perang," kata Jokowi dalam rekaman videonya.

Secara garis besar, pesan Jokowi di Forum R20 itu meliputi beberapa hal. Pertama, ajakan terutama kepada para tokoh lintas agama di seluruh dunia agar bekerjasama untuk bisa menjadi ikut ambil peran di tengah situasi krisis global, seperti rivalitas dan perang. 

Sebab dalam pandangan Jokowi, rivalitas dan perang perlu dihentikan demi dunia yang damai, bersatu dan bekerja sama untuk mewariskan kebaikan bagi generasi mendatang. 

Sebab itu, poin ajakan pada para tokoh agama di pertemuan Forum R20 adalah bagaimana agama bisa berkontribusi besar untuk peradaban dan kemanusiaan. Pesan damai dan harmoni dari agama itulah yang harus disebarkan oleh para pemuka agama di dunia. 

Tentu dengan cara gotong-royong, bersama-sama, saling bahu-membahu di antara pemuka agama di dunia, sehingga memungkinkan tersampaikannya pesan damai tersebut ke seluruh dunia secara lebih efektif.

Kedua, Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana para pemuka agama – dari berbagai agama di bumi pertiwi ini – dapat mengatasi berbagai persoalan krisis dalam negeri dengan cara bergotong-royong. 

Contoh nyata penanganan Covid-19. Ketika pandemi itu menyebar, dan pemerintah meminta supaya masyarakat menghindari kerumunan termasuk dalam ibadah, para pemuka agama di Indonesia sigap merespon dan mendukung kebijakan pemerintah. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement